Beberapa waktu yang lalu beruntung saya diajak seorang teman untuk melihatnya saat mengisi seminar di suatu perusahaan swasta. Materinya sendiri adalah untuk memotivasi karyawan yang baru diterima agar bisa bekerja dengan baik dan sesuai dengan standart perusahaan. Disalah satu materi yang diberikan ada sesion merubah mindset dengan hipnotis.
Hipnotis sendiri adalah salah satu cabang ilmu baru yang dipercaya dapat merubah "mindset" atau "pola pikir" seseorang dengan cara bypass. Yaitu dengan mengaktifkan energy gelombang pendek ke otak sehingga kemudian pikiran bawah sadarnya akan dikondisikan untuk siap menerima hal-hal baru yang diberikan.
Cara hipnotis kali ini sangat menarik menurut saya, karyawan-karyawa baru ini yang masih berusia sangat muda dibuat tertawa bersama dengan banyolan-banyolan yang disisipkan diantara pemberian teori motivasi dan kemudian dihipnotis ringan sehingga dengan begitu akan membangkitkan kesadaran bawah sadar mereka, dan session berikutnya diakhiri dengan pemberian motivasi-motivasi yang baru untuk membentuk karakter dan pola pikir yang baru.
Para karyawan baru diajak memotivasi dirinya sendiri dengan cara mendengarkan serta membangkitkan kesadaran bawah sadar mereka untuk menjadi lebih baik. Cara yang dipakai adalah dengan pelepasan emosi melalui cara hipnotis sederhana. Pada saat acara hipnotis ringan ini banyak keseruan sendiri, para karyawan muda menangis terisak-isak bahkan ada yang sampai tersedu-sedu karena diingatkan pada jasa orang tua mereka masing-masing. Dengan pelepasan emosi ini maka nilai-nilai yang telah tertanam akan keluar dan dikosongkan serta diganti dengan nilai-nilai yang baru. Mereka yang masih berusia muda ini dipercaya pada dasarnya memiliki jiwa-jiwa yang bersih dan jauh di dalam hatinya memiliki berbagai sikap positif lainnya terutama sikap sebagai individu yang jujur dan baik tetapi terkadang mereka lupa dengan sikap-sikap positif tersebut. Banyak faktor yang mempengaruhi bergesernya sikap positif ini, diantaranya adalah karena perubahan nilai diri, nilai keluarga, nilai pendidikan dan nilai dalam lingkungan. Untuk itu maka alam bawah sadarnya dikosongkan kembali dan kemudian ditanamkan kembali nilai-nilai yang baik dan positif
Terus terang tehnik seperti diatas mengingatkan saya pada kegiatan kepramuka-an yang saya ikuti saat kecil dulu. Pada setiap kegiatan kemah bersama pasti di malam harinya ada kegiatan yang namanya jurit malam, dan jurit malam ini disertai oleh acara renungan suci. Pada acara renungan suci tersebut biasanya banyak anak akan menangis karena ingat orang tua dan kenakalan-kenakalan mereka terhadap orang tuanya. Pada saat ini anak kemudian diberikan motivasi untuk lebih giat belajar demi menyenangkan kedua orang tua mereka.
Proses yang sama juga dilakukan saat saya menjalani acara orientasi kampus pada penerimaan mahasiswa baru. Pada saat itu saya dan mahasiswa baru lainnya dipaksa untuk menuruti semua perintah yang diberikan, dibuat kelelahan karena telah melakukan aktifitas fisik sejak acara dimulai serta dikecilkan arti diri karena tidak bisa melawan dan harus menahan emosi, baru kemudian biasanya pada akhir acara diberikan sebuah renungan untuk memotivasi dirinya sendiri agar menjadi lebih baik demi masa depan dan kedua orang tua.
Pada saat renungan suci atau acara perenungan diakhir orientasi kampus ini sudah pasti acaranya dibanjiri isak tangis peserta. Peserta yang sudah capek beraktifitas seharian kemudian diaduk emosinya dengan cara mengingat semua kebaikan kedua orang tua mereka. Mereka biasanya melepaskan amarah dan ketidak berdayaan mereka terhadap orang tua dalam bentuk tangisan. Semakin keras tangisan maka pelepasan emosi semakin tersalurkan dan semakin mudah pula nilai-nilai baru diberikan.
Yah memang ternyata setelah diamati, dan secara tidak disadari seorang anak bagaimanapun tingkat usia maupun tingkat pendidikannya adalah tetap seorang anak. Seorang anak yang jauh didasar hatinya selalu ingin menyenangkan dan ingin menjadi kebanggaan kedua orang tuanya hanya saja mungkin mereka tidak dapat mengungkapkannya dan tidak tahu caranya. Perbedaan-perbadaan cara pandang dengan orang tua, rasa frustasi karena tidak bisa mengungkapkan kekecewaan mereka pada akhirnya menutupi semua kebaikan-kebaikan dan menghasilkan kemarahan dalam diri mereka. Kemarahan ini biasanya disalurkan menjadi bentuk negative seperti malas, tidak mendengarkan nasehat bahkan melawan dan yang paling ekstrim adalah mencari pembenaran di luar rumah dengan teman-teman atau lingkungan yang dianggap sesuai dan mendukungnya. Kemarahan dan peberontakan inilah yang kemudian akan mempengaruhi dan tertanam dalam alam bawah sadarnya sehingga membentuk suatu nilai-nilai baru yag tidak baik.
Pada akhirnya saya juga banyak mengambil pelajaran dari acara yang saya ikuti diatas, terutama sekarang ketika saya telah menjadi orang tua dari anak yang mulai beranjak besar. Kenakalan-kenakalan anak saya serta perlawanan-perlawanan kecilnya yang terkadang bikin emosi dan kesal mungkin adalah bentuk dari caranya menyatakan bahwa dia adalah juga individu yang memiliki kemauan dan kemampuan sendiri. Pemberontakannya bukan suatu tanda bahwa dia tidak menyayangi orang tuanya dan tidak "menurut" tapi caranya berkomunikasi bahwa dia juga ingin didengar.
Semoga saja setelah ini saya bisa menjadi ibu yang lebih baik, ibu yang mau lebih mendengarkan dan dengan menekan segala egoisme sebagai orang tua mampu untuk berbagi cinta dengan anaknya....demi masa depannya dan kebahagiaannya ....Semoga saja.
Blog ini saya buat formatnya sebagai catatan harian saya, dan untuk dibaca serta dinikmati sendiri. Adapun dalam perjalannanya nanti mengundang komentar atau berubah bentuk lain, saya anggap itu sebagai pendewasaan saya ke arah yang lebih baik. Semoga semua apa yang saya curahkan sebagai tulisan dapat juga bermanfaat bagi orang lain dan menjadi cerminan bagi saya untuk terus berintrospeksi diri.
Showing posts with label obrolan. Show all posts
Showing posts with label obrolan. Show all posts
Thursday, September 18, 2014
Wednesday, September 10, 2014
"Pelayanan" yang menyakitkan...
Beberapa hari yang lalu tiba-tiba ponsel saya mati total, tentunya ini bikin bingung dan panik, selain semua kontak saya ada di situ catatan-catatan penting lainnyapun juga tersimpan disana, makanya begitu ada masalah langsung saya berusaha untuk mencari service center terdekat. Saya menduga masalahnya ada di baterainya tapi untuk pastinya maka sebaiknya saya periksakan saja.
Alamat service center dari ponsel saya sendiri saya dapatkan dari hasil browsing di internet, saya lebih memilih service center resmi karena saya merasa awam dengan hal-hal seperti ini dan ingin yang pasti saja, kebetulan juga tempatnya ternyata tidak jauh dari rumah, dan berada di sebuah kompleks pertokoan maka siang itu juga langsung saya datangi.
Sesampainya di service center saya disambut dengan ramah oleh customer servicenya dan ditanyakan apa masalahnya. Sayapun menjelaskannya dari awal dan dia meminta ponsel saya tersebut. Begitu melihat bahwa ponsel saya tidak di beli di Indonesia maka sikapnya sedikit berubah. Si customer service yang walapun tetap berusaha ramah tapi mulai bersikap menolak dan mengatakan mereka tidak menerima service ponsel tersebut. Untuk membeli baterai-pun tidak ada yang tipe tersebut karena tidak di produksi dan dijual di Indonesia katanya. Dengan sedikit heran saya tanyakan alasannya, dia cuma menunjuk dengan acuh tulisan didepannya dan mempersilahkan saya untuk membaca aturan-aturan yang tertulis disitu. Agak kaget dengan perlakuan tersebut, belum lagi mendengar komentarnya bahwa sebaiknya membeli produk di Indonesia jangan di luar negri...hmmm sebuah pernyataan konyol buat saya tapi tetap saya bersabar dan membaca semua aturan yang ditunjukkannya. Dan ternyata saya tidak mendapatkan tulisan satupun yang menyebutkan bahwa hanya ponsel yang di beli di Indonesia saja yang boleh diservice di service center Indonesia, disitu hanya disebutkan yang intinya tidak menerima garansi untuk produk yang dijual di luar Indonesia, dan memang saya pada saat itu tidak bermaksud meminta garansi.
Dengan keyakinan tersebut saya bilang kepadanya bahwa pada saat saya membeli produk tersebut saya sudah bertanya apakah ada service center di Indonesia dan mereka bilang ada, juga browsing pun service center produk ponsel saya ada di Malang jadi sangat aneh kalau service center tidak menerima produk saya hanya karena tidak dibeli di Indonesia sebagai alasannya. Dan sayapun bilang padanya bahwa saya sudah bertanya di counter-counter yang menjual peralatan ponsel yang ada di pertokoan itu juga bahwa untuk ponsel saya yang dibeli di luar negeri ini ada baterai yang menjualnya, malah dengan harga yang bervariasi dari yang murah sampai yang mahal, makanya mengherankan kalau service center resmi justru tidak menyediakannya.
Mungkin karena saya membaca dengan seksama aturan yang dia tunjukkan tersebut atau juga karena nada suara saya sudah tinggi akhirnya dia mengalah dan melemparkan saya ke customer service lainnya. Dan ternyata setelah ponsel saya diperiksa dengan sebuah alat yang tidak sampai 5 menit hasil sudah didapat. Ponsel saya baik-baik saja hanya masalahnya di baterai yang memang harus ganti dan setelah di check sebentar di komputernya diapun mendapatkan tipe pengganti yang sesuai dengan tipe ponsel saya tersebut, tapi karena persediaan habis maka saya harus rela menunggu beberapa hari. Benar-benar sebuah perjuangan panjang untuk hanya mendapatkan service yang semestinya.
Pengalaman lain yang berhubungan dengan "pelayanan" saya temui saat saya dan anak saya setelah pulang sekolah memutuskan untuk makan di luar sambil menunggu waktu dia untuk mengikuti eskul berikutnya. Pilihan kami saat itu adalah restaurant cepat saji dengan brand international, tempat itu kami pilih karena selain tempatnya nyaman dan ber AC juga berada tepat di samping sekolahnya jadi jaraknya tidak terlalu jauh untuk kembali ke sekolah. Sambil antri menunggu giliran kamipun memilih menu yang tersedia di board yang ada dan menu tersebut tentunya sesuai dengan yang kami butuhkan. Sesampainya di depan kasir dan mengutarakan menu yang kami pilih, sang kasir dengan ramah menyarankan kami untuk memilih menu lainnya karena katanya amat cocok bagi kami berdua. Mungkin karena kemudian saya berusaha mencari-cari menu yang ditawarkannya di board menu dan memang tidak ada disitu, dia kemudian buru-buru menambahkan bahwa menu tersebut adalah menu promo mereka dan terus membujuk untuk menyetujuinya. Mungkin karena keramahan si kasir atau karena terbujuk kata-kata promo maka anak sayapun membujuk saya untuk menyetujuinya, dan akhirnya saya kabulkan karena saya sudah merasa tidak enak dengan orang-orang yang sudah gelisah antri di belakang saya. Agak kaget juga begitu saya setuju si mbak langsung menyodorkan beberapa CD lagu yang bisa dipilih, lebih kaget lagi ketika dia menyodorkan slip berapa yang harus saya bayar. Sayapun makan hari itu dengan membawa CD lagu yang penyanyinya saja saya tidak kenal dan perasaan sedikit tertipu.
Lain halnya ketika saya ingin mendapatkan sambungan internet di rumah, setelah tanya sana sini dan dengan berbagai pertimbangan maka akhirnya pilihan saya jatuh pada provider milik pemerintah. Sebenarnya pertama-tama ada rasa malas juga berhubungan dengan yang namanya "pemerintah" karena yang ada di kepala saya adalah kata "ribet" tapi karena rekomendasi banyak orang maka akhirnya saya pilih juga. Kesan awal di kantor pusat pelayanannya amat baik, security menyambut kita dengan ramah dan bertanya maksud kita juga mengambilkan nomer, tidak ribet seperti perkiraan saya. Saya mendapatkan nomer urut 29 dan coba bersabar karena haripun masih pagi dan saya lihat tempat ruang tunggunyapun nyaman ber AC serta banyak sofa dan TV mirip-mirip lobby hotel, customer servicenya juga ada 7 loket jadi pasti sebentar saja sudah dilayani. Tunggu punya tunggu setelah hampir 1,5jam ternyata saya check nomer urut saya bahkan belum mendekati sama sekali masih jauh sekali. Kali ini saya tahu apa gunanya sofa dan TV tersebut, beberapa pengantri bahkan sudah tampak tidur pulas. Akhirnya iseng saya browsing bagaimana cara mendapatkan sambungan internet dengan cara online saja, dan ternyata saya mendapatkannya, ada nomer telepon, Whatsapp dan juga pin BB, agak heran juga sebenarnya kenapa security yang tadi menyambut saya dan menanyakan apa keperluan saya tidak memberitahukan bahwa kita bisa registrasi secara online, tapi ya sudahlah ..... Dan tanpa menyia-nyiakan waktu langsung saya hubungi orang tersebut yang ternyata adalah rekanan dari provider pemerintah, langsung pula dijawab dan ditanggapi secara cepat. Dia berjanji dalam satu dua hari petugas akan datang dan kalau semua lancar maka internet sudah dapat diakses dalam 1 hari saja. Akhirnya saya pulang sambil menyesali kebodohan saya untuk tidak mencari tahu dan browsing terlebih dahulu sehingga tidak perlu menunggu 1,5jam lamanya.
Dan ternyata walaupun janji internet terpasang secepatnya molor sampai 2 minggu lamanya saya masih tetap merasa puas akan ppelayanan dari provider milik pemerintah ini. Semua keluhan saya mereka tanggapi dengan sigap dan cepat, dan setiap saya hubungi mereka langsung merespon-nya sehingga saya tidak merasa diabaikan. Dari pusatpun selain terus memantau para pekerja lapangannya dengan berkomunikasi langsung dengan pelanggan , mereka juga berkali-kali mengingatkan dan meminta pelanggan untuk tidak memberikan uang kepada para petugas lapangan. Anggapan saya tentang perusahaan pemerintah akhirnya berubah sama sekali.
Ya memang ternyata bisa saya akui bahwa senyum dan keramahan ternyata bisa melambungkan "harapan" saya terlalu tinggi sehingga ketika saya mengalami hal yang berlawanan dengan "harapan" saya tersebut maka yang saya dapatkan adalah kekecewaan, sedangkan ketika saya tidak berharap terlalu banyak malah mendapatkan apa yang saya inginkan.
Semoga saja salah satu tehnik pemasaran yang rupanya sekarang diterapkan di hampir semua sektor ini akan lebih baik lagi nantinya. Dan keramahan yang sudah baik ini akan diikuti juga dengan "pelayanan" yang memadai, pemberian informasi dan pengetahuan akan produk serta yang terpenting adalah komunikasi yang baik dengan pelanggan, sehingga melayani pelanggan yang banyak diartikan dengan "ramah" ini nantinya bukan cuma sekedar senyum diwajah dan sapaan basa-basi saja....
Alamat service center dari ponsel saya sendiri saya dapatkan dari hasil browsing di internet, saya lebih memilih service center resmi karena saya merasa awam dengan hal-hal seperti ini dan ingin yang pasti saja, kebetulan juga tempatnya ternyata tidak jauh dari rumah, dan berada di sebuah kompleks pertokoan maka siang itu juga langsung saya datangi.
Sesampainya di service center saya disambut dengan ramah oleh customer servicenya dan ditanyakan apa masalahnya. Sayapun menjelaskannya dari awal dan dia meminta ponsel saya tersebut. Begitu melihat bahwa ponsel saya tidak di beli di Indonesia maka sikapnya sedikit berubah. Si customer service yang walapun tetap berusaha ramah tapi mulai bersikap menolak dan mengatakan mereka tidak menerima service ponsel tersebut. Untuk membeli baterai-pun tidak ada yang tipe tersebut karena tidak di produksi dan dijual di Indonesia katanya. Dengan sedikit heran saya tanyakan alasannya, dia cuma menunjuk dengan acuh tulisan didepannya dan mempersilahkan saya untuk membaca aturan-aturan yang tertulis disitu. Agak kaget dengan perlakuan tersebut, belum lagi mendengar komentarnya bahwa sebaiknya membeli produk di Indonesia jangan di luar negri...hmmm sebuah pernyataan konyol buat saya tapi tetap saya bersabar dan membaca semua aturan yang ditunjukkannya. Dan ternyata saya tidak mendapatkan tulisan satupun yang menyebutkan bahwa hanya ponsel yang di beli di Indonesia saja yang boleh diservice di service center Indonesia, disitu hanya disebutkan yang intinya tidak menerima garansi untuk produk yang dijual di luar Indonesia, dan memang saya pada saat itu tidak bermaksud meminta garansi.
Dengan keyakinan tersebut saya bilang kepadanya bahwa pada saat saya membeli produk tersebut saya sudah bertanya apakah ada service center di Indonesia dan mereka bilang ada, juga browsing pun service center produk ponsel saya ada di Malang jadi sangat aneh kalau service center tidak menerima produk saya hanya karena tidak dibeli di Indonesia sebagai alasannya. Dan sayapun bilang padanya bahwa saya sudah bertanya di counter-counter yang menjual peralatan ponsel yang ada di pertokoan itu juga bahwa untuk ponsel saya yang dibeli di luar negeri ini ada baterai yang menjualnya, malah dengan harga yang bervariasi dari yang murah sampai yang mahal, makanya mengherankan kalau service center resmi justru tidak menyediakannya.
Mungkin karena saya membaca dengan seksama aturan yang dia tunjukkan tersebut atau juga karena nada suara saya sudah tinggi akhirnya dia mengalah dan melemparkan saya ke customer service lainnya. Dan ternyata setelah ponsel saya diperiksa dengan sebuah alat yang tidak sampai 5 menit hasil sudah didapat. Ponsel saya baik-baik saja hanya masalahnya di baterai yang memang harus ganti dan setelah di check sebentar di komputernya diapun mendapatkan tipe pengganti yang sesuai dengan tipe ponsel saya tersebut, tapi karena persediaan habis maka saya harus rela menunggu beberapa hari. Benar-benar sebuah perjuangan panjang untuk hanya mendapatkan service yang semestinya.
Pengalaman lain yang berhubungan dengan "pelayanan" saya temui saat saya dan anak saya setelah pulang sekolah memutuskan untuk makan di luar sambil menunggu waktu dia untuk mengikuti eskul berikutnya. Pilihan kami saat itu adalah restaurant cepat saji dengan brand international, tempat itu kami pilih karena selain tempatnya nyaman dan ber AC juga berada tepat di samping sekolahnya jadi jaraknya tidak terlalu jauh untuk kembali ke sekolah. Sambil antri menunggu giliran kamipun memilih menu yang tersedia di board yang ada dan menu tersebut tentunya sesuai dengan yang kami butuhkan. Sesampainya di depan kasir dan mengutarakan menu yang kami pilih, sang kasir dengan ramah menyarankan kami untuk memilih menu lainnya karena katanya amat cocok bagi kami berdua. Mungkin karena kemudian saya berusaha mencari-cari menu yang ditawarkannya di board menu dan memang tidak ada disitu, dia kemudian buru-buru menambahkan bahwa menu tersebut adalah menu promo mereka dan terus membujuk untuk menyetujuinya. Mungkin karena keramahan si kasir atau karena terbujuk kata-kata promo maka anak sayapun membujuk saya untuk menyetujuinya, dan akhirnya saya kabulkan karena saya sudah merasa tidak enak dengan orang-orang yang sudah gelisah antri di belakang saya. Agak kaget juga begitu saya setuju si mbak langsung menyodorkan beberapa CD lagu yang bisa dipilih, lebih kaget lagi ketika dia menyodorkan slip berapa yang harus saya bayar. Sayapun makan hari itu dengan membawa CD lagu yang penyanyinya saja saya tidak kenal dan perasaan sedikit tertipu.
Lain halnya ketika saya ingin mendapatkan sambungan internet di rumah, setelah tanya sana sini dan dengan berbagai pertimbangan maka akhirnya pilihan saya jatuh pada provider milik pemerintah. Sebenarnya pertama-tama ada rasa malas juga berhubungan dengan yang namanya "pemerintah" karena yang ada di kepala saya adalah kata "ribet" tapi karena rekomendasi banyak orang maka akhirnya saya pilih juga. Kesan awal di kantor pusat pelayanannya amat baik, security menyambut kita dengan ramah dan bertanya maksud kita juga mengambilkan nomer, tidak ribet seperti perkiraan saya. Saya mendapatkan nomer urut 29 dan coba bersabar karena haripun masih pagi dan saya lihat tempat ruang tunggunyapun nyaman ber AC serta banyak sofa dan TV mirip-mirip lobby hotel, customer servicenya juga ada 7 loket jadi pasti sebentar saja sudah dilayani. Tunggu punya tunggu setelah hampir 1,5jam ternyata saya check nomer urut saya bahkan belum mendekati sama sekali masih jauh sekali. Kali ini saya tahu apa gunanya sofa dan TV tersebut, beberapa pengantri bahkan sudah tampak tidur pulas. Akhirnya iseng saya browsing bagaimana cara mendapatkan sambungan internet dengan cara online saja, dan ternyata saya mendapatkannya, ada nomer telepon, Whatsapp dan juga pin BB, agak heran juga sebenarnya kenapa security yang tadi menyambut saya dan menanyakan apa keperluan saya tidak memberitahukan bahwa kita bisa registrasi secara online, tapi ya sudahlah ..... Dan tanpa menyia-nyiakan waktu langsung saya hubungi orang tersebut yang ternyata adalah rekanan dari provider pemerintah, langsung pula dijawab dan ditanggapi secara cepat. Dia berjanji dalam satu dua hari petugas akan datang dan kalau semua lancar maka internet sudah dapat diakses dalam 1 hari saja. Akhirnya saya pulang sambil menyesali kebodohan saya untuk tidak mencari tahu dan browsing terlebih dahulu sehingga tidak perlu menunggu 1,5jam lamanya.
Dan ternyata walaupun janji internet terpasang secepatnya molor sampai 2 minggu lamanya saya masih tetap merasa puas akan ppelayanan dari provider milik pemerintah ini. Semua keluhan saya mereka tanggapi dengan sigap dan cepat, dan setiap saya hubungi mereka langsung merespon-nya sehingga saya tidak merasa diabaikan. Dari pusatpun selain terus memantau para pekerja lapangannya dengan berkomunikasi langsung dengan pelanggan , mereka juga berkali-kali mengingatkan dan meminta pelanggan untuk tidak memberikan uang kepada para petugas lapangan. Anggapan saya tentang perusahaan pemerintah akhirnya berubah sama sekali.
Ya memang ternyata bisa saya akui bahwa senyum dan keramahan ternyata bisa melambungkan "harapan" saya terlalu tinggi sehingga ketika saya mengalami hal yang berlawanan dengan "harapan" saya tersebut maka yang saya dapatkan adalah kekecewaan, sedangkan ketika saya tidak berharap terlalu banyak malah mendapatkan apa yang saya inginkan.
Semoga saja salah satu tehnik pemasaran yang rupanya sekarang diterapkan di hampir semua sektor ini akan lebih baik lagi nantinya. Dan keramahan yang sudah baik ini akan diikuti juga dengan "pelayanan" yang memadai, pemberian informasi dan pengetahuan akan produk serta yang terpenting adalah komunikasi yang baik dengan pelanggan, sehingga melayani pelanggan yang banyak diartikan dengan "ramah" ini nantinya bukan cuma sekedar senyum diwajah dan sapaan basa-basi saja....
Tuesday, August 26, 2014
Transisi
Sudah lama banget gak nge-blog...sejak persiapan serta pindahan ke Indonesia pada akhir Juli kemarin maka ini adalah postingan saya yang pertama. Persiapan pindahan apalagi ini mempersiapkan diri untuk pindah negara memerlukan persiapan yang tidak sedikit sehingga menarik semua energy yang saya punya. Foto-foto dari postingan-postingan terakhir yang tidak sempat saya upload sudah berjejer menunggu, rencananya sich akan saya upload begitu sempat, tapi ternyata sampai hari kepulangan saya ke Tanah air rencana tinggal rencana jangankan meng upload menyentuh komputer saja sepertinya susah sekali mencari waktunya.
Setelah pindah ternyata masalahnyapun tidak berkurang, banyak sekali hal yang perlu dibenahi, mulai dari urusan sekolah anak sampai dengan tempat kita akan tinggal. Terus terang rumah yang saya punya belum siap dihuni, selain semua perabotan rumah masih di Srilanka rumah kamipun harus banyak yang di renovasi agar layak huni, untuk itu kami harus bersabar dan sementara tinggal di rumah orang tua dulu sampai semuanya tertata.
Kehidupan saya yang selama ini tertata dan sudah teratur rapi sedikit banyak mengalami perubahan. Walaupun sebenarnya kami sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari dengan baik tak urung membuat kami harus banyak menyesuaikan diri lagi dan memulainya dari awal.
Masa transisi yang sepertinya mudah sekali diucapkan ternyata tak sesederhana kelihatannya. Mengambil arti kata transisi yang bermakna peralihan dari suatu keadaan ke keadaan lain atau dapat juga bermakna kondisi yang belum stabil maka bisa dikatakan demikian juga keadaan saya sekarang. Penyesuaian besar-besaran serta menata hati dan diri tentunya bukan saja dialami oleh anak dan suami tetapi juga diri saya.
Untuk anak yang saya pikir akan mengalami penyesuaian yang besar karena harus pindah sekolah dengan bahasa yang tidak dia pahami benar serta kurikulum yang asing untuknya, tetapi ternyata diluar dugaan dan dengan segala puji syukur ternyata sedikit demi sedikit dia sudah dapat dengan cepat menyesuaikan diri walaupun masih jauh dari sempurna dan perlu lebih banyak kerja keras lagi darinya dan yang paling menyenangkan adalah dia amat bergembira karena telah mendapatkan banyak teman baru yang membantunya di sekolah serta dekat dengan keluarga lainnya terutama ada kakek neneknya membantunya cepat beradaptasi.
Untuk suami yang setelah ini harus berjuang sendiri demi masa depan kami semua di negara orang tentunya keadaan sekarang akan berbeda sekali dengan pada saat kita berkumpul dan menghadapinya bersama, tetapi saya yakin masa-masa sulitnya akan cepat berlalu dan dia kembali tenggelam dengan kesibukannya di kantor. Dan bagaimana dengan saya sendiri??
Hmmmm...benar-benar masa transisi ini ternyata secara tak terduga berdampak terbesar ke diri saya sendiri. Homesick ternyata saya rasakan sekali, saat pertama kali datang sich masih seperti bulan madu saja semua kelihatan bagus dan enak...bisa jalan-jalan ke mall setiap hari, bertemu dan dekat dengan keluarga serta makan jajanan kesukaan setiap kali kepengen tapi lama kelamaan saya merasa bosan juga. Merasa asing di lingkungan sendiri dan rasa kesepian serta tidak berguna mungkin lebih tepatnya perasaan yang saya rasakan saat ini. Rasanya seperti meraba-raba dalam gelap, dan mencoba berusaha mencoba untuk keluar dari kegelapan itu.
Sudah tidak banyaknya teman mungkin juga menjadi salah satu penyebabnya. Pernah beberapa kali mencoba menjalin kembali pertemuan dengan teman-teman lama tapi rasanya canggung sekali, bahkan dibeberapa kesempatan bertemu dengan mereka membuat saya semakin merasa terasing, entahlah mungkin saya yang berubah atau juga mereka, tidak ada lagi chemistry diantara kita membuat saya menjadi malas datang ke pertemuan-pertemuan kembali. Kegiatan harian pun sulit kembali normal contoh sederhananya hobby memasak saya sekarang susah untuk menjalankannya lagi, selain peralatan memasak saya yang masih tertinggal di Srilanka juga saya tidak punya dapur sendiri karena saya saat ini masih tinggal di rumah orang tua yang berarti saya masih harus beradaptasi lagi dengan dapur mereka.
Makanya kemaren senang sekali saat sambungan internet terpasang ke rumah, walaupun memang menunggu sedikit lebih lama dari janji salah satu provider yang katanya 1 hari jadi menjadi molor 2 minggu-an lamanya, masih dapat saya maafkan...rasa kesalnya tertutup sudah dengan rasa gembira tiada tara...seperti mendapatkan hadiah saja.
Dengan adanya internet maka saya sudah bisa sedikit menapak maju, tidak bisu dan tuli lagi dan paling tidak langkah saya sedikit kembali normal.
Sekarang saya sudah bisa kembali menulis atau paling tidak meng update berita-berita lagi.
Harapan saya ke depan tidak muluk-muluk semoga saja saya dapat kembali bisa mencari sedikit demi sedikit network yang lama terputus sambil terus berharap semuanya akan normal lagi dan saya kembali mendapatkan kegiatan yang saya sukai dan beraktifitas secara produktif lagi.....Semoga saja semuanya menjadi lebih baik....Aminnn ya Allah...
Setelah pindah ternyata masalahnyapun tidak berkurang, banyak sekali hal yang perlu dibenahi, mulai dari urusan sekolah anak sampai dengan tempat kita akan tinggal. Terus terang rumah yang saya punya belum siap dihuni, selain semua perabotan rumah masih di Srilanka rumah kamipun harus banyak yang di renovasi agar layak huni, untuk itu kami harus bersabar dan sementara tinggal di rumah orang tua dulu sampai semuanya tertata.
Kehidupan saya yang selama ini tertata dan sudah teratur rapi sedikit banyak mengalami perubahan. Walaupun sebenarnya kami sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari dengan baik tak urung membuat kami harus banyak menyesuaikan diri lagi dan memulainya dari awal.
Masa transisi yang sepertinya mudah sekali diucapkan ternyata tak sesederhana kelihatannya. Mengambil arti kata transisi yang bermakna peralihan dari suatu keadaan ke keadaan lain atau dapat juga bermakna kondisi yang belum stabil maka bisa dikatakan demikian juga keadaan saya sekarang. Penyesuaian besar-besaran serta menata hati dan diri tentunya bukan saja dialami oleh anak dan suami tetapi juga diri saya.
Untuk anak yang saya pikir akan mengalami penyesuaian yang besar karena harus pindah sekolah dengan bahasa yang tidak dia pahami benar serta kurikulum yang asing untuknya, tetapi ternyata diluar dugaan dan dengan segala puji syukur ternyata sedikit demi sedikit dia sudah dapat dengan cepat menyesuaikan diri walaupun masih jauh dari sempurna dan perlu lebih banyak kerja keras lagi darinya dan yang paling menyenangkan adalah dia amat bergembira karena telah mendapatkan banyak teman baru yang membantunya di sekolah serta dekat dengan keluarga lainnya terutama ada kakek neneknya membantunya cepat beradaptasi.
Untuk suami yang setelah ini harus berjuang sendiri demi masa depan kami semua di negara orang tentunya keadaan sekarang akan berbeda sekali dengan pada saat kita berkumpul dan menghadapinya bersama, tetapi saya yakin masa-masa sulitnya akan cepat berlalu dan dia kembali tenggelam dengan kesibukannya di kantor. Dan bagaimana dengan saya sendiri??
Hmmmm...benar-benar masa transisi ini ternyata secara tak terduga berdampak terbesar ke diri saya sendiri. Homesick ternyata saya rasakan sekali, saat pertama kali datang sich masih seperti bulan madu saja semua kelihatan bagus dan enak...bisa jalan-jalan ke mall setiap hari, bertemu dan dekat dengan keluarga serta makan jajanan kesukaan setiap kali kepengen tapi lama kelamaan saya merasa bosan juga. Merasa asing di lingkungan sendiri dan rasa kesepian serta tidak berguna mungkin lebih tepatnya perasaan yang saya rasakan saat ini. Rasanya seperti meraba-raba dalam gelap, dan mencoba berusaha mencoba untuk keluar dari kegelapan itu.
Sudah tidak banyaknya teman mungkin juga menjadi salah satu penyebabnya. Pernah beberapa kali mencoba menjalin kembali pertemuan dengan teman-teman lama tapi rasanya canggung sekali, bahkan dibeberapa kesempatan bertemu dengan mereka membuat saya semakin merasa terasing, entahlah mungkin saya yang berubah atau juga mereka, tidak ada lagi chemistry diantara kita membuat saya menjadi malas datang ke pertemuan-pertemuan kembali. Kegiatan harian pun sulit kembali normal contoh sederhananya hobby memasak saya sekarang susah untuk menjalankannya lagi, selain peralatan memasak saya yang masih tertinggal di Srilanka juga saya tidak punya dapur sendiri karena saya saat ini masih tinggal di rumah orang tua yang berarti saya masih harus beradaptasi lagi dengan dapur mereka.
Makanya kemaren senang sekali saat sambungan internet terpasang ke rumah, walaupun memang menunggu sedikit lebih lama dari janji salah satu provider yang katanya 1 hari jadi menjadi molor 2 minggu-an lamanya, masih dapat saya maafkan...rasa kesalnya tertutup sudah dengan rasa gembira tiada tara...seperti mendapatkan hadiah saja.
Dengan adanya internet maka saya sudah bisa sedikit menapak maju, tidak bisu dan tuli lagi dan paling tidak langkah saya sedikit kembali normal.
Sekarang saya sudah bisa kembali menulis atau paling tidak meng update berita-berita lagi.
Harapan saya ke depan tidak muluk-muluk semoga saja saya dapat kembali bisa mencari sedikit demi sedikit network yang lama terputus sambil terus berharap semuanya akan normal lagi dan saya kembali mendapatkan kegiatan yang saya sukai dan beraktifitas secara produktif lagi.....Semoga saja semuanya menjadi lebih baik....Aminnn ya Allah...
Label:
obrolan
Colombo, Srilanka
South East Asia
Sunday, May 18, 2014
Vesak 2014
![]() |
Waisak sendiri merupakan hari untuk memperingati Trisuci agama Budha yaitu:
1. Kelahiran Pangeran Sidharta
2. Pangeran Sidharta menuju penerangannya menjadi Budha
3. Wafatnya Budha.
Peringatan Vesak ditandai dengan dipasangnya berbagai ornament keagamaan disetiap sudut jalan yang menyimbolkan tentang perjalanan hidup Budha mulai dari dilahirkan sampai dengan meninggalnya, dan juga ditandai dengan pemasangan lampu-lampu, lampion warna warni serta pembagian makanan gratis.
Pemasangan lampu warna warni ini merupakan symbol cahaya untuk mengenang Pangeran Shidarta menuju proses penerangannya dalam menyampaikan Dhamma. Masyarakat Srilanka banyak memasang lampu-lampu minyak dan lampion-lampion sebagai hiasan di rumah-rumah maupun di jalan-jalan. Membuat lampion sendiri dipercaya merupakan salah satu dari proses meditasi yang merupakan ritual dari rangkaian kegiatan pada saat Vesak. Dikatakan bahwa proses meditasi pada setiap orang berbeda-beda ada yang menjalankannya dengan cara pengaturan nafas ada pula yang dengan cara menggosokkan 2 benda. Dan pada saat pembuatan lampion ini ada proses menggosokkan 2 benda, dengan mengolah bambu atau kayu yang di gosok-gosok, membengkokkan dan menjadikannya sebuah bentuk kerangka serta kemudian menghiasnya, proses ini dipercaya sebagai salah satu dari cara bermeditasi.
Pada proses pembuatan lampionpun dilakukan secara bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga, dan dengan berkumpul bersama serta membuatnya dengan bantuan orang serumah dan tetangga sekitar akan dapat mempererat hubungan kekeluargaan serta kemasyarakatan.
Walaupun praktek membuat lampion dengan bantuan orang serumah ini sudah mulai hilang terutama di daerah perkotaan, namun mereka tetap bisa merayakan dan mendapatkannya karena lampion-lampion jadi atau kerangkanya saja sudah banyak dijajakan di jalan-jalan seminggu sebelum acara Vesak dimulai.
Pembagian minuman serta makananpun dilakukan di jalan-jalan dan disetiap sudut, masyarakat bersama-sama bergotong royong menyediakan makanan atau minuman dan membagikannya di jalan, sebagai bentuk rasa syukur dan welas asih pada sesama. Semua orang yang lewat ditawari makan atau minum tanpa kecuali, masyarakat yang melintaspunpun dengan senang hati mencobanya.
Perayaan Vesak tahun 2014 kali ini di Colombo tetap berpusat di sepanjang jalan utama Baudhaloka Mawata dan di sekitar Gangaramaya Tample di Baira Lake Colombo. Acaranya meriah, jalan-jalan nampak berhias dan bermandikan cahaya indah, saya sendiri tidak melihat perayaannya pada puncak acara Vesak 2014 kemaren karena kami sekeluarga melakukan perjalanan ke luar kota Colombo.
Tapi lampu-lampu dan kemeriahan kota bisa kita saksikan sebelumnya karena hiasan-hiasan sudah dapat dilihat beberapa hari sebelum Vesak, jalan keluar kotapun cukup meriah walapun tidak seramai di Colombo masyarakat sudah mulai membagi-bagikan makanan sehari sebelumnya dan setiap rumah telah menghiasi rumahnya dengan lapu-lampu minyak maupun lampion warna-warni. Foto-foto diatas adalah sebagian dari suasana Vesak di Colombo yang bisa saya abadikan sebelum perjalanan ke luar kota dan juga hasil kiriman teman-teman yang telah berbaik hati berbagi dan berhasil mengikuti acara Vesak 2014 di Colombo.
Ini mungkin adalah Vesak terakhir buat kami di Srilanka, tetapi kemeriahannya akan terus kami kenang, semoga lain waktu bisa juga melihat kemeriahan Vesak yang ada di Indonesia atau di negara lainnya. (dok. Martha, Tyas, Nini, Dinda, Dinie).
Monday, December 30, 2013
Tahun Baru
Tidak terasa sebentar lagi sudah hampir di penghujung tahun, tahun 2013 telah kita lalui dan akan berganti dengan tahun yang baru. Banyak sudah yang kita dapatkan ataupun harapan yang belum tercapai di tahun kemarin, banyak juga kejadian-kejadian yang membahagiakan maupun yang tidak mengenakkan di tahun lalu, tapi yang pasti akan ada banyak harapan-harapan baru di tahun yang akan datang.
Menengok ke belakang, tahun kemarin adalah tahun tersibuk untuk saya, tahun yang penuh dengan perjalanan serta tahun yang membawa kebahagiaan dan harapan baru. Sejak dari bulan Januari banyak sudah perjalanan yang saya tempuh, terutama perjalanan ke luar negri. Kata orang kalau setiap kota memiliki uratnya sendiri, berdenyut seirama dengan masyarakatnya, dan buat saya setiap kota yang saya kunjungi memiliki atmosfir yang berbeda-beda yang tidak akan pernah sama setiap tempatnya, maka memiki kesempatan melihat kota-kota yang berbeda adalah anugrah untuk saya. Perjalanan paling mengesankan dan tidak terlupakan tahun ini adalah perjalanan ke Eropa. Perjalanan ke Eropa saya lakukan pada bulan Mei, saat itu udara sudah tidak terlalu dingin dan amat cerah, saya berangkat beserta rombongan ibu-ibu, tepatnya kami ke Italy dan Vatican. Perjalanan ini seperti mimpi yang menjadi nyata, karena selain ini perjalanan pertama saya ke Eropa, saya juga sudah impikan sejak dari kecil. Sebagai pecinta buku-buku fiksi sejarah, sudah tentu kota Roma dan sekitarnya ada dalam list teratas saya untuk kota "must visit", dan akhirnya tahun ini saya dapat kesempatan untuk mengunjunginya. Setiap detail saya perhatikan agar tak terlewatkan, dan saya rekam dalam ingatan saya supaya menjadi suatu kenangan yang tak terlupakan serta berharap agar bisa kembali lagi suatu hari nanti.
Dalam hal berkarya terutama masak-memasak tahun ini boleh dibilang tahun dimana saya mulai merasa nyaman berkarya dan mulai sedikit-sedikit menemukan jati diri apa yang sebenarnya yang saya mau. Kalau dulu memasak dan mencoba resep asal saja dan tidak pernah mendalami resep yang saya dapatkan, maka tahun ini saya sudah mulai mendapatkan bentuknya. Keseriusan saya untuk terus mencari resep-resep traditional popular sebenarnya terbentuk dari ketidaksengajaan. Keterbatasan karena ketidak adanya oven membuat saya menyempitkan dan menyeleksi hanya mencoba resep-resep yang dikukus atau di goreng saja. Dan ternyata tanpa diduga-duga ada begitu banyak resep traditional yang memakai cara tersebut, memilah-milah resep-resep traditional dengan metode yang lebih mudah dan modern serta memberi sentuhan baru sudah menjadi keasikan tersendiri untuk saya. Belum lagi mendapatkan teman-teman baru yang sehati walaupun hanya bertukar sapa dan bertukar pikiran lewat dunia maya namun sudah dapat menguatkan untuk tidak berhenti dan terus berkarya.
Selain kejadian2 indah tentunya juga ada kejadian yang tidak enak. Keputusan kami kembali ketanah air secepatnya ternyata membawa banyak dampak terhadap kami. Seperti halnya keputusan untuk pindah maka ganjalan terbesar kami adalah memindahkan sekolah anak dan menjual rumah kami. Urusan menjual rumah walaupun sulit tapi akhirnya dapat dilewati, kami mendapatkan pembeli sesuai dengan yang kami harapkan. Walaupun berat tapi kami melepaskan rumah kami dengan rasa syukur dan ikhlas. Sekarang tinggal urusan sekolah anak, memindahkan sekolah ternyata tidak semudah yang diucapkan, memerlukan kesabaran yang luar biasa karena bagaimanapun bukan hanya urusan mencari sekolah yang sesuai tetapi juga menyangkut perasaan si anak sendiri. Kekuatiran-kekuatirannya, kecemasannya sangat mudah dimengerti karena pada saatnya nanti dialah yang akan menjalankannya dan bekerja keras. Penyesuaian luar biasa akan dijalaninya karena bagaimanapun sejak lahir dan mengenal dunia sekolah dia sudah ada di negara ini, sudah terlalu terbiasa dengan budaya dan kebiasaan disekolahnya, terutama bahasa dan pelajarannya. Memberinya pengertian bahwa kami orang tuanya juga mempunyai kekuatiran-kekuatiran yang sama dengannya, memulai awal yang baru tidaklah mudah, memberikan rasa takut yang amat sangat, tapi saya percaya selagi kita saling menguatkan dan berjuang bersama-sama maka mudah-mudahan nantinya saat-saat sulit akan terasa lebih mudah di jalani.
Menjelang tahun baru ini ada beribu harapan yang terpikir, ada beribu doa-doa yang telah dipanjatkan, dan semoga saja tahun depan menjadi tahun yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.......SELAMAT TAHUN BARU 2014
Friday, November 22, 2013
Setrika
Kalau ibu-ibu sedang berkumpul dan membicarakan tentang pekerjaan rumah maka pasti menyetrika pakaian adalah topik yang paling hangat dibicarakan karena dari semua pekerjaan rumah mulai dari menyapu, bersih-bersih, mencuci sampai dengan memasak dan berkebun maka peringkat menyetrika pasti yang paling bawah disukai. Pekerjaan yang juga saya sering tunda dan pasti ada saja alasan saya untuk tidak mengerjakannya padahal tumpukan baju kering yang sudah saya cuci semakin lama semakin menggunung dan tidak akan berkurang sebelum dikerjakan.
Terkadang timbul keinginan untuk tidak mengerjakannya sama sekali. Baju-baju rumah cukup dilipat rapih atau digantung saja setelah di jemur dan hanya menyetrika baju-baju yang akan dipakai untuk ke kantor atau acara tertentu seperti saran seorang teman, tapi kok hati ini seperti tidak enak, seperti ada yang kurang, mungkin juga karena saya tidak terbiasa melakukannya.
Untuk mengurangi jumlah setrikaan di rumah maka saya putuskan untuk mulai berstrategi yaitu membuat peraturan baru, baju baru boleh dimasukkan ke tempat cucian setelah benar-benar kotor dan baju boleh dipakai beberapa kali sebelum dicuci. Cara itu ternyata berhasil hanya beberapa saat saja, rupanya seisi rumah sudah terbiasa untuk berganti baju berkali-kali dalam sehari, Jadi tetap saja saya berkutat dengan setrikaan yang menggunung.
Seingat saya ketidak sukaan saya menyetrika pakaian sebenarnya sudah ada sejak dulu, sejak sebelum menikahpun pekerjaan menyetrika sudah berusaha saya hindari. Kalaupun terpaksa saya harus menyetrika maka pasti akan terjadi sesuatu seperti menghanguskan beberapa baju sekaligus atau protes bapak saya karena celana panjangnya menjadi bergaris tidak karuan bahkan pernah saya menyetrikanya melebar tanpa garis sehingga kalau dipakai menjadi mirip rok. Dan banyak lagi kejadian lucu ataupun menyebalkan lainnya, makanya dulu sempat terheran-heran juga kalau ibu saya justru memilih menyetrika pakaian sebagai pekerjaan rumah yang dia senangi dibanding pekerjaan lainnya.
Tetapi baru-baru ini mulai saya sadari bahwa menyetrika pakaian bisa juga mengasikkan. Walaupun mungkin setrikaan saya tetap belum sempurna dan terkadang masih membakar satu dua baju tetapi saya sudah mulai bisa menikmati pekerjaan menyetrika ini, terutama kalau sedang menyetrika baju anak.
Pada saat menyetrika baju-baju yang dipakainya seperti mengingatkan saya akan tingkah lakunya sehari-hari, hal-hal kecil yang membuat saya selalu kangen padanya. Dan ternyata juga bau uap dari setrika yang panas kalau menyentuh pakaiannya serupa benar dengan bau badannya. Jadi sambil menyetrika saya akan melamunkannya, rasanya seperti dia ada di dekat saya dan saya sedang memeluknya. Mungkin ini yang membuat ibu saya dulu amat menyenangi pekerjaan menyetrika baju, karena dia akan selalu merasa dekat dengan orang-orang yang disayanginya.
Terkadang timbul keinginan untuk tidak mengerjakannya sama sekali. Baju-baju rumah cukup dilipat rapih atau digantung saja setelah di jemur dan hanya menyetrika baju-baju yang akan dipakai untuk ke kantor atau acara tertentu seperti saran seorang teman, tapi kok hati ini seperti tidak enak, seperti ada yang kurang, mungkin juga karena saya tidak terbiasa melakukannya.
Untuk mengurangi jumlah setrikaan di rumah maka saya putuskan untuk mulai berstrategi yaitu membuat peraturan baru, baju baru boleh dimasukkan ke tempat cucian setelah benar-benar kotor dan baju boleh dipakai beberapa kali sebelum dicuci. Cara itu ternyata berhasil hanya beberapa saat saja, rupanya seisi rumah sudah terbiasa untuk berganti baju berkali-kali dalam sehari, Jadi tetap saja saya berkutat dengan setrikaan yang menggunung.
Seingat saya ketidak sukaan saya menyetrika pakaian sebenarnya sudah ada sejak dulu, sejak sebelum menikahpun pekerjaan menyetrika sudah berusaha saya hindari. Kalaupun terpaksa saya harus menyetrika maka pasti akan terjadi sesuatu seperti menghanguskan beberapa baju sekaligus atau protes bapak saya karena celana panjangnya menjadi bergaris tidak karuan bahkan pernah saya menyetrikanya melebar tanpa garis sehingga kalau dipakai menjadi mirip rok. Dan banyak lagi kejadian lucu ataupun menyebalkan lainnya, makanya dulu sempat terheran-heran juga kalau ibu saya justru memilih menyetrika pakaian sebagai pekerjaan rumah yang dia senangi dibanding pekerjaan lainnya.
Tetapi baru-baru ini mulai saya sadari bahwa menyetrika pakaian bisa juga mengasikkan. Walaupun mungkin setrikaan saya tetap belum sempurna dan terkadang masih membakar satu dua baju tetapi saya sudah mulai bisa menikmati pekerjaan menyetrika ini, terutama kalau sedang menyetrika baju anak.
Pada saat menyetrika baju-baju yang dipakainya seperti mengingatkan saya akan tingkah lakunya sehari-hari, hal-hal kecil yang membuat saya selalu kangen padanya. Dan ternyata juga bau uap dari setrika yang panas kalau menyentuh pakaiannya serupa benar dengan bau badannya. Jadi sambil menyetrika saya akan melamunkannya, rasanya seperti dia ada di dekat saya dan saya sedang memeluknya. Mungkin ini yang membuat ibu saya dulu amat menyenangi pekerjaan menyetrika baju, karena dia akan selalu merasa dekat dengan orang-orang yang disayanginya.
Friday, November 15, 2013
Pengemis
Siang itu matahari benar-benar terik, sebenarnya malas kemana-mana, tapi karena harus mengantarkan anak yang akan ujian piano jadi terpaksa pergi juga. Pada saat saya sedang mencari tempat parkir kebetulan ada satu mobil yang pergi, maka cepat-cepat saya ambil posisinya, wah beruntung sekali pikir saya karena pada saat seperti itu sangat sulit mencari parkir. Memang ujian-ujian seperti ini pasti padat, karena untuk wilayah Colombo ujian disatukan disatu tempat yaitu gedung politehnik, dan tidak disediakan tempat parkir dan tempat tunggu bagi pengantar.
Setelah urusan mendaftarkan diri dan anak sudah masuk ke tempat ujian maka saya kembali ke mobil dan saya putuskan selama 2 jam tersebut untuk menunggu. Keputusan itu diambil karena saya mendapatkan parkir persis disebelah gedung tempat anak saya ujian dan didepan gedung bioskop tua yang walaupun saat itu kelihatan sepi tetapi saya lihat ada yang berjualan makanan dan minuman ringan sehingga kalaupun saya haus atau bosan saya bisa masuk gedung bioskop membeli minuman dingin yang dijual. Di tempat parkir itu juga berada disebelah jalan raya besar dan walaupun siang itu tidak banyak lalu lalang kendaraan tetapi sepanjang jalan banyak mobil di parkir dan sesekali ada juga orang-orang yang berjalan disepanjang trotoar, sehingga saya merasa aman. Untuk membuat lebih nyaman maka saya buka jendela mobil agak sedikit lebar agar udara masuk bebas ke dalam.
Pada saat saya sedang asik bermain game di gadget yang saya bawa tiba-tiba saya dikejutkan oleh orang yang mengetuk-ngetuk di jendela, dia menawarkan sesuatu ke saya, tapi karena saya tidak mengerti bahasanya maka saya tolak dengan halus, orangnya pun pergi. Tak lama kemudian datang lagi seorang pemuda, bukan cuma mengetuk tapi dia memukul dengan keras, dari bahasa tubuhnya dia meminta uang untuk makan, saya sedikit ketakutan dibuatnya, bukan hanya badannya yang gempal tapi caranya meminta agak kasar dan memaksa, saya pikir pasti dia preman atau pemuda mabuk yang sering mengganggu orang di jalan karena pakaiannyapun bagus dan bersih, tidak seperti pengemis atau gelandangan, cepat-cepat saya naikkan kaca mobil setinggi mungkin, saya tolak dia dengan gerakan tangan mengusir, akhirnya setelah beberapa saat dia pergi juga, mungkin karena frustasi tidak juga saya beri atau juga karena ada beberapa pejalan kaki yang datang melintas di tempat itu.
Kejadian diatas membuat saya lebih waspada, saya periksa apakah semua pintu mobil sudah terkunci dengan benar sekali lagi, dan tidak lagi asik bermain game tetapi saya mulai memperhatikan semua orang yang melintas, sampai akhirnya kembali seseorang menghampiri saya. Dia mengetuk jendela dan meminta-minta, karena terkejut dengan kejadian sebelumnya maka spontan saya tolak, diapun berlalu tanpa banyak bicara. Ternyata dia tidak sendirian, ada anak laki-laki dan istrinya yang menunggu sedikit dibelakangnya. Bukan si bapak yang cacat lumpuh separuh dari bahu kebawah sehingga sulit untuk berjalan atau si anak laki-laki yang sebaya dengan anak saya, ataupun si ibu yang menarik perhatian saya, tapi cara mereka berpandangan satu sama lain yang membuat saya takjub. Pandangan penuh kasih sayang, kepasrahan, penerimaan, kekaguman, rasa hormat dan entah apalagi yang tidak bisa saya gambarkan. Pandangan yang mampu mendesirkan hati saya, mendirikan bulu kuduk saya dan membuat waktu seperti berhenti berputar.
Saya seperti tak mampu berpikir jernih, terpaku memandang mereka. Saya hanya dapat memperhatikan mereka dan mengikuti semua gerak gerik mereka, mereka yang berjalan dengan amat berlahan menyusuri trotoar sambil sesekali berhenti karena memperhatikan sesuatu atau si bapak yang meminta-minta pada orang di jalan. Tidak kepada semua orang dia meminta-minta, dan setiap kali akan meminta-minta si ibu dan anaknya akan berdiri sedikit dibelakangnya, tetap dengan pandangan yang sama, seolah-olah memberi kesempatan si bapak melakukan pekerjaannya. Kemudian si ibu akan membantu sang bapak berjalan, si anak menggandeng tangan ibunya, dan mereka kembali berjalan berdampingan. Pada saat berjalan dan tidak meminta-minta si anak sepertinya sibuk bertanya dan berceloteh dengan suara pelan sedangkan bapaknya dengan sabar memberi penjelasan dan bercerita, diselingi dengan senyuman dan terkadang tawa kecil ibunya.
Wajah mereka tampak teduh dan bahagia, amat berbeda dengan para pengemis dan peminta-minta yang sering saya temui, baju mereka walaupun sudah usang dan tua tetapi bersih, mereka juga berkomunikasi dalam bahasa inggris dengan baik. Mungkin memang mereka bukan pengemis biasa, atau mungkin mereka mengemis dengan terpaksa karena si bapak yang tiba-tiba menjadi sakit dan cacat, entahlah, tapi yang jelas kemudian saya tersadar dari lamunan dan rasa takjub saya, dan bergegas keluar dari mobil dengan sedikit berlari menghampiri mereka yang sudah berada agak jauh di depan dengan maksud memberikan sedikit uang. Si bapak mengenali saya, dia mengucapkan terimakasih dan minta maaf karena telah terpaksa mengganggu saya, si ibu dan anaknya berbisik mengucapkan terimakasih sambil tersenyum. Saya cepat-cepat berlalu dari mereka sebelum air mata ini terlanjur jatuh, dan merekapun melanjutkan perjalanan mereka, sambil terus berjalan bersisian bergandeng tangan menyusuri trotoar.
Monday, September 30, 2013
New shoes
Sudah lama banget rasanya gak ngeblog...sepertinya sibuk sekali akhir-akhir ini sampai gak sempat untuk memegang komputer sama sekali. Terus terang memang sejak pindah ke apartemen semua kegiatan rutin harian mulai terganggu karena harus menyesuaikan lagi dengan ritme yang baru, dan memang benar apa yang dikatakan orang bahwa memulai sesuatu yang baru ibaratnya seperti memakai sepatu baru, dimana pada awalnya akan terasa tidak nyaman untuk beberapa waktu sampai akhirnya kaki kita dan sepatu tersebut dapat menyesuaikan diri dan menjadi terbiasa, begitu juga dengan keseharian saya sekarang.
Karena kami sekarang tinggal di apartemen yang lumayan kecil maka saya putuskan untuk tidak memakai pembantu lagi, keputusan ini saya ambil bukan hanya karena di apartemen kami hanya tinggal beberapa ruangan saja tetapi juga tidak adanya ruang khusus untuk pembantu, sehingga demi rasa kemanusiaan saya putuskan untuk tidak memakai jasa pembantu lagi, selain itu saya pikir saya pasti punya sedikit waktu lebih dibandingkan dengan dulu karena sekolah anak hanya berjarak 2 kilo meter dari tempat tinggal kami. Tapi ternyata kenyataannya tidak semudah apa yang saya bayangkan, sebagai akibat dari berhentinya sang pembantu maka semua pekerjaan rumah saya kerjakan sendiri, awal-awal terasa berat sekali....sepertinya jadwal harian saya porak poranda, tiap hari waktu saya habis dengan acara membersihkan rumah dan setrika, belum lagi kalau ada kegiatan di kantor suami wah rasanya sehari tak cukup waktu, dan kalau sudah menjelang malam barulah terasa badan remuk redam karena terlalu capek. Kondisi ini sedikit membuat saya kesal dan gampang marah, saya sudah mulai rindu rumah lama kami dulu dan keseharian saya, mulai berpikir juga apakah keputusan kami untuk pindah adalah keputusan yang benar, pokoknya semua rasa berkecamuk di dada, ada rasa kesal, menyesal, marah, campur aduk jadi satu. Yang paling menyedihkan adalah karena saya tidak lagi punya waktu untuk diri sendiri dan menyalurkan hobby memasak saya. Dapur yang kecil dan tidak adanya oven membuat saya bertambah frustasi.
Tetapi setelah hampir satu bulan lamanya keadaan akhirnya semakin membaik, saya tidak lagi ngotot membersihkan rumah beberapa kali dalam sehari, atau mencuci baju dan menyetrikanya tiap saat, selain itu anak dan suami sudah mulai melibatkan diri membantu semua kerepotan saya. Saya sedikit-sedikit sudah mulai punya waktu lagi untuk diri sendiri dan meneruskan hobby saya. Saya mulai lagi memasak dan membuat kue-kue, tentunya sekarang disesuaikan dengan membuat kue-kue yang tidak memerlukan oven, dan ternyata setelah dicari ada banyak sekali resep masakan yang tidak usah dipanggang, tetapi cukup di steam saja.
Sekarang saya sudah mulai bisa tersenyum lagi, sudah bias menikmati kicauan burung2 dan mengamati semua gerak-gerik lucu tupai yang ada di pepohonan milik tetangga yang terlihat jelas dari jendela kamar saya. Yang paling menyenangkan adalah saya bisa meneruskan hobby saya sedari kecil dulu yaitu berlama-lama memandangi langit biru diatas sana tanpa gangguan, karena memang kita tinggal lebih tinggi dari bangunan lainnya dan langit begitu tanpak jelas dari rumah kami. Memang pada akhirnya semua tidaklah seburuk apa yang saya pikirkan....dan memang kita hanya perlu sedikit bersabar dan menyesuaikan diri agar semua terlihat indah pada waktunya.
Karena kami sekarang tinggal di apartemen yang lumayan kecil maka saya putuskan untuk tidak memakai pembantu lagi, keputusan ini saya ambil bukan hanya karena di apartemen kami hanya tinggal beberapa ruangan saja tetapi juga tidak adanya ruang khusus untuk pembantu, sehingga demi rasa kemanusiaan saya putuskan untuk tidak memakai jasa pembantu lagi, selain itu saya pikir saya pasti punya sedikit waktu lebih dibandingkan dengan dulu karena sekolah anak hanya berjarak 2 kilo meter dari tempat tinggal kami. Tapi ternyata kenyataannya tidak semudah apa yang saya bayangkan, sebagai akibat dari berhentinya sang pembantu maka semua pekerjaan rumah saya kerjakan sendiri, awal-awal terasa berat sekali....sepertinya jadwal harian saya porak poranda, tiap hari waktu saya habis dengan acara membersihkan rumah dan setrika, belum lagi kalau ada kegiatan di kantor suami wah rasanya sehari tak cukup waktu, dan kalau sudah menjelang malam barulah terasa badan remuk redam karena terlalu capek. Kondisi ini sedikit membuat saya kesal dan gampang marah, saya sudah mulai rindu rumah lama kami dulu dan keseharian saya, mulai berpikir juga apakah keputusan kami untuk pindah adalah keputusan yang benar, pokoknya semua rasa berkecamuk di dada, ada rasa kesal, menyesal, marah, campur aduk jadi satu. Yang paling menyedihkan adalah karena saya tidak lagi punya waktu untuk diri sendiri dan menyalurkan hobby memasak saya. Dapur yang kecil dan tidak adanya oven membuat saya bertambah frustasi.
Tetapi setelah hampir satu bulan lamanya keadaan akhirnya semakin membaik, saya tidak lagi ngotot membersihkan rumah beberapa kali dalam sehari, atau mencuci baju dan menyetrikanya tiap saat, selain itu anak dan suami sudah mulai melibatkan diri membantu semua kerepotan saya. Saya sedikit-sedikit sudah mulai punya waktu lagi untuk diri sendiri dan meneruskan hobby saya. Saya mulai lagi memasak dan membuat kue-kue, tentunya sekarang disesuaikan dengan membuat kue-kue yang tidak memerlukan oven, dan ternyata setelah dicari ada banyak sekali resep masakan yang tidak usah dipanggang, tetapi cukup di steam saja.
Sekarang saya sudah mulai bisa tersenyum lagi, sudah bias menikmati kicauan burung2 dan mengamati semua gerak-gerik lucu tupai yang ada di pepohonan milik tetangga yang terlihat jelas dari jendela kamar saya. Yang paling menyenangkan adalah saya bisa meneruskan hobby saya sedari kecil dulu yaitu berlama-lama memandangi langit biru diatas sana tanpa gangguan, karena memang kita tinggal lebih tinggi dari bangunan lainnya dan langit begitu tanpak jelas dari rumah kami. Memang pada akhirnya semua tidaklah seburuk apa yang saya pikirkan....dan memang kita hanya perlu sedikit bersabar dan menyesuaikan diri agar semua terlihat indah pada waktunya.
Monday, July 15, 2013
Mahluk immortal.....(curhat)..
Libur sekolah telah tiba.... libur sekolah kali ini seperti juga liburan tahun-tahun yang lalu tentunya disambut dengan gembira oleh kami semua. Selain mulai merencanakan untuk liburan dan berlebaran di Tanah air dengan seluruh sanak keluarga ada satu hal lagi yang sangat membuat saya bahagia yaitu tidak bertemunya anak saya dengan temannya dan mengisolasi dia dari serangan kutu!!.....
Sudah beberapa lama ini kami satu rumah berperang untuk memberantas kutu kepala. Perang ini bermula ketika suatu hari ketika saya sedang menyisir rambut anak saya yang lumayan panjang, menemukan beberapa titik putih di rambutnya. Titik-titik putih ini saya curigai sebagai telur kutu, pikir saya waktu itu kalau ada telurnya berarti juga pasti ada kutunya. Wah benar-benar bencana...karena anak saya terkadang juga masih tidur dengan saya....bisa-bisa satu rumah tertular semua. Tanpa pikir lebih lama langsung saya datangi farmasi yang menjual obat untuk menghilangkan kutu tersebut, dan mulailah kami memulai treatment kutu tersebut. Tidak mau ambil resiko pemakaian obat saya ulang seminggu 2 kali selama 2 minggu. Bau obat yang menyengat dan membuat mual tetap saya paksakan untuk kami pakai. Sesering mungkin saya check juga secara berkala kepalanya, kalau ada tanda-tanda kutu masih bersarang maka kembali pengobatannya saya lanjutkan, mau bagaimana lagi....selama anak saya terus bertemu dengan temannya yang menyebarkan kutu maka selama itu pula pengobatan berlangsung.
Ceritanya memang anak saya berteman dekat dengan anak yang penyebarkan kutu ini, sebut saja namanya si Ann. Ann adalah anak pemalu dan manis yang pernah saya tahu. Dia amat sangat tidak percaya diri menurut pendapat saya, dan tidak mempunyai teman. Hampir semua teman baik yang sekelas maupun teman satu sekolah selalu menghindar berteman dengannya tanpa tahu apa sebabnya. Pertama kali di kenalkan kepada saya dia menjawab dengan suara sangat pelan dan menunduk malu tanpa berani melihat ke arah saya, dan seperti berusaha menarik diri. Anaknya cantik dan tidak ada yang aneh secara fisik tapi betapa kagetnya saya karena dari jarak agak jauhpun sudah terlihat bintik-bintik putih bergerombol dan amat sangat banyak di kepalanya. Bintik-bintik putih ini bukan kotoran biasa...sudah bisa dipastikan bahwa itu telur-telur kutu...jumlahnya ratusan bahkan mungkin ribuan, bergerombol memenuhi kepalanya.
Tahulah saya kenapa semua anak menghindar berteman dengan Ann ini, mungkin mereka takut tertular, dan mungkin orang tua mereka tidak mengijinkan mereka dekat dengan Ann. Tapi tidak begitu dengan anak saya, dia yang juga pernah menjadi korban bullying di sekolah merasa kasihan dan senasib dengan Ann. Buatnya sangat tidak fair bila tidak mau berteman dengan seseorang hanya karena dia berkutu, dan lagipula Ann anak yang baik. Ya memang benar sekali pendapat anak saya, dan itupula yang selalu saya ajarkan kepadanya untuk berteman dengan siapa saja, dan tanpa maksud untuk menyakiti hati anak saya maupun temannya maka pelan-pelan saya nasehati saja dia agar memberikan jarak sedikit bila sedang berdekatan dengannya. Pikir saya waktu itu kutu tidak akan menular bila tidak bersentuhan langsung, sampai akhirnya saya temukan telur-telur kutu dikepalanya...
Ini jelas bukan salah Ann dan bukan pula salah anak saya, mempunyai kutu juga bukan merupakan penyakit berbahaya, hanya saja sangat menular....mengambil istilah anak saya bahwa kutu dikepala adalah mahluk immortal karena dia sudah bosan mengobatinya tapi tetap tidak bisa hilang2, dan menyebar cepat kesegala arah, maka saya berusaha mencari penyelesaian terbaik dari masalah ini. Akhirnya saya datangi perawat di sekolah, saya utarakan masalah saya, dan tanpa menyebutkan nama maka sayapun memintanya untuk kembali secara aktif memeriksa kepala anak-anak ini. Harapan saya agar mereka menemukan siapa yang berkutu dan memberikan surat kepada orang tua masing-masing. Tapi ternyata tindakan itu tidak kunjung dilakukan....apakah mereka sudah tau siapa penyebabnya ataukah ada sebab lain seperti ada orang tua yang tidak bersedia anaknya diperiksa karena masalah privacy....entahlah.....
Memang dahulu saya ingat saya pernah mengisi form perihal pemeriksaan berkala kebersihan anak-anak di sekolah termasuk pemeriksaan kutu di kepala, form persetujuan ini dibuat untuk meminta ijin orang tua murid, karena ternyata banyak juga orang tua murid yang tidak mengijinkan pemeriksaan anaknya dengan berbagai macam alasan. Amat sangat disayangkan dan ironis kalau orang tua murid tidak memperbolehkan pemeriksaan kebersihan ini, karena memang ini adalah salah satu tanggung jawab mereka. Bukan salah si anak bila dia berkutu, bukan juga salah anak-anak lain yang menghindari berteman dengan anak yang mempunyai kutu, itu adalah tanggung jawab orang tuanya. Sesibuk apapun orang tuanya mereka harus bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kebersihan anaknya.
Sangat disayangkan, seorang anak yang seharusnya bisa bermain bebas dan gembira bersama teman-temannya, dan bisa menggali semua potensi yang ada padanya, merasa terkucil, rendah diri, dan tidak nyaman berada dilingkungannya, hanya karena dia memiliki banyak kutu dikepalanya....
Sudah beberapa lama ini kami satu rumah berperang untuk memberantas kutu kepala. Perang ini bermula ketika suatu hari ketika saya sedang menyisir rambut anak saya yang lumayan panjang, menemukan beberapa titik putih di rambutnya. Titik-titik putih ini saya curigai sebagai telur kutu, pikir saya waktu itu kalau ada telurnya berarti juga pasti ada kutunya. Wah benar-benar bencana...karena anak saya terkadang juga masih tidur dengan saya....bisa-bisa satu rumah tertular semua. Tanpa pikir lebih lama langsung saya datangi farmasi yang menjual obat untuk menghilangkan kutu tersebut, dan mulailah kami memulai treatment kutu tersebut. Tidak mau ambil resiko pemakaian obat saya ulang seminggu 2 kali selama 2 minggu. Bau obat yang menyengat dan membuat mual tetap saya paksakan untuk kami pakai. Sesering mungkin saya check juga secara berkala kepalanya, kalau ada tanda-tanda kutu masih bersarang maka kembali pengobatannya saya lanjutkan, mau bagaimana lagi....selama anak saya terus bertemu dengan temannya yang menyebarkan kutu maka selama itu pula pengobatan berlangsung.
Ceritanya memang anak saya berteman dekat dengan anak yang penyebarkan kutu ini, sebut saja namanya si Ann. Ann adalah anak pemalu dan manis yang pernah saya tahu. Dia amat sangat tidak percaya diri menurut pendapat saya, dan tidak mempunyai teman. Hampir semua teman baik yang sekelas maupun teman satu sekolah selalu menghindar berteman dengannya tanpa tahu apa sebabnya. Pertama kali di kenalkan kepada saya dia menjawab dengan suara sangat pelan dan menunduk malu tanpa berani melihat ke arah saya, dan seperti berusaha menarik diri. Anaknya cantik dan tidak ada yang aneh secara fisik tapi betapa kagetnya saya karena dari jarak agak jauhpun sudah terlihat bintik-bintik putih bergerombol dan amat sangat banyak di kepalanya. Bintik-bintik putih ini bukan kotoran biasa...sudah bisa dipastikan bahwa itu telur-telur kutu...jumlahnya ratusan bahkan mungkin ribuan, bergerombol memenuhi kepalanya.
Tahulah saya kenapa semua anak menghindar berteman dengan Ann ini, mungkin mereka takut tertular, dan mungkin orang tua mereka tidak mengijinkan mereka dekat dengan Ann. Tapi tidak begitu dengan anak saya, dia yang juga pernah menjadi korban bullying di sekolah merasa kasihan dan senasib dengan Ann. Buatnya sangat tidak fair bila tidak mau berteman dengan seseorang hanya karena dia berkutu, dan lagipula Ann anak yang baik. Ya memang benar sekali pendapat anak saya, dan itupula yang selalu saya ajarkan kepadanya untuk berteman dengan siapa saja, dan tanpa maksud untuk menyakiti hati anak saya maupun temannya maka pelan-pelan saya nasehati saja dia agar memberikan jarak sedikit bila sedang berdekatan dengannya. Pikir saya waktu itu kutu tidak akan menular bila tidak bersentuhan langsung, sampai akhirnya saya temukan telur-telur kutu dikepalanya...
Ini jelas bukan salah Ann dan bukan pula salah anak saya, mempunyai kutu juga bukan merupakan penyakit berbahaya, hanya saja sangat menular....mengambil istilah anak saya bahwa kutu dikepala adalah mahluk immortal karena dia sudah bosan mengobatinya tapi tetap tidak bisa hilang2, dan menyebar cepat kesegala arah, maka saya berusaha mencari penyelesaian terbaik dari masalah ini. Akhirnya saya datangi perawat di sekolah, saya utarakan masalah saya, dan tanpa menyebutkan nama maka sayapun memintanya untuk kembali secara aktif memeriksa kepala anak-anak ini. Harapan saya agar mereka menemukan siapa yang berkutu dan memberikan surat kepada orang tua masing-masing. Tapi ternyata tindakan itu tidak kunjung dilakukan....apakah mereka sudah tau siapa penyebabnya ataukah ada sebab lain seperti ada orang tua yang tidak bersedia anaknya diperiksa karena masalah privacy....entahlah.....
Memang dahulu saya ingat saya pernah mengisi form perihal pemeriksaan berkala kebersihan anak-anak di sekolah termasuk pemeriksaan kutu di kepala, form persetujuan ini dibuat untuk meminta ijin orang tua murid, karena ternyata banyak juga orang tua murid yang tidak mengijinkan pemeriksaan anaknya dengan berbagai macam alasan. Amat sangat disayangkan dan ironis kalau orang tua murid tidak memperbolehkan pemeriksaan kebersihan ini, karena memang ini adalah salah satu tanggung jawab mereka. Bukan salah si anak bila dia berkutu, bukan juga salah anak-anak lain yang menghindari berteman dengan anak yang mempunyai kutu, itu adalah tanggung jawab orang tuanya. Sesibuk apapun orang tuanya mereka harus bertanggung jawab terhadap kesehatan dan kebersihan anaknya.
Sangat disayangkan, seorang anak yang seharusnya bisa bermain bebas dan gembira bersama teman-temannya, dan bisa menggali semua potensi yang ada padanya, merasa terkucil, rendah diri, dan tidak nyaman berada dilingkungannya, hanya karena dia memiliki banyak kutu dikepalanya....
Saturday, June 29, 2013
Selamat tinggal rumahku...
Hari ini adalah hari dimulainya packing....sungguh berat rasanya untuk memulai, entah dari mana harus dilakukan terlebih dahulu. Satu persatu gundukan barang-barang menanti masuk ke dalam box2, menunggu untuk mulai dipisah-pisahkan, tapi tetap saja ada rasa sedih dan sesak di dada ini. Sambil memilah barang-barang tersebut terkenang kembali semua memory yang pernah terjadi di rumah ini. Hari ini memang hari dimulainya pindahan rumah, rumah yang telah kita huni lebih dari 8 tahun yang lalu, rumah yang kami bangun dari semua hasil keringat, kerja keras dan air mata kami juga dengan seluruh cinta yang kami punya.
Rumah ini bukan sekedar rumah biasa bagi kami, ada proses panjang dan berliku untuk mendapatkannya, sebuah proses yang mungkin sama panjangnya dengan perjalanan rumah tangga kami. Saya ingat saat memutuskan untuk membangun rumah ini, usia pernikahan kami belum mencapai satu tahun. Seperti semua perkawinan lainnya masih banyak hal-hal yang harus disesuaikan, apalagi bagi kami yang saat itu memang baru benar-benar memulainya. Keputusan saya untuk ikut suami yang bertugas dan menetap lama di luar negri setelah menikah merupakan sebuah keputusan terbesar dalam hidup saya, mungkin sama besarnya dengan ketika saya memutuskan untuk menikah. Walaupun semua resiko seperti jauh dari keluarga, teman-teman dan meninggalkan semua kegiatan serta aktifitas harian yang biasanya saya lakukan serta resiko untuk tidak bekerja lagi sudah saya persiapkan matang-matang tapi tidak urung membuat awal-awal kepindahan saya ke negara yang sama sekali asing ini sering membebani pikiran saya juga.
Awal yang penuh keraguan, ketakutan dan rasa tidak nyaman ini akhirnya sedikit-sedikit mulai hilang karena tekad kami berdua sudah bulat, apapun rintangannya akan kami hadapi berdua dan sesulit apapun, sedapat mungkin akan kita selesaikan bersama. Mungkin tekad itulah yang menguatkan kami satu sama lain menghadapi berbagai masalah dan semua beban kehidupan dalam menjalani pernikahan kami selama ini. Tekat untuk selalu bersama dalam suka dan duka yang merupakan salah satu bentuk perjuangan dalam mengarungi kehidupan perkawinan, sama seperti halnya perjuangan dan rasa syukur tak terhingga yang saya rasakan untuk mendapatkan rumah mungil kami.

Pada awal kepindahan ke Colombo suami dan saya memutuskan untuk tinggal di rumah yang disediakan oleh KBRI. Keputusan ini kami ambil karena saya pikir pada saat itu kami hanya berdua saja, dan juga sekaligus untuk menghemat uang sewa, karena tinggal ditempat lain akan mahal sekali sebab harus membayar sewa bulanan yang jumlahnya amat besar bagi kami. Awalnya berat memang tinggal disana karena sebenarnya rumah tersebut adalah bekas kantor KBRI lama. Ruangan-ruangan kantor tersebutlah yang kemudian dijadikan tempat tinggal. Ada 4 keluarga yang tinggal disana termasuk kami . Kami mendapat beberapa ruangan untuk ditinggali, ruangan kantor tersebut kemudian saya sulap menjadi ruang tidur, ruang tamu dan dapur dan saya dekorasi sebaik-baiknya agar tampak layak huni dan menyerupai flat kecil. Tapi setelah kami hampir setahun tinggal disana pimpinan memanggil kami semua dan memberitahukan agar kami siap-siap untuk meninggalkan tempat tinggal kami tersebut sebab gedung kantor akan di jual ke pihak lain.
Pengumuman ini agak mengejutkan karena mendadak tapi kami terima dengan iklas karena memang sebenarnya gedung tersebut diperuntukkan sebagai kantor bukan rumah tinggal. Kami semua diberi kesempatan 3-4 bulan lagi sebelum mendapatkan tempat tinggal yang baru dan saya hitung saat kami harus meninggalkan gedung tersebut bertepatan dengan saat saya melahirkan nantinya karena saya saat itu sedang hamil, oleh karena itu pencarian rumah tinggal harus sesegera mungkin. Tetapi setelah berputar-putar mencari yang sesuai dengan budget kami, saya dan suami serta atas saran teman-teman suami akhirnya memutuskan untuk membeli tanah saja dan membangunnya. Keputusan itu datang dengan pertimbangan karena kami akan tinggal lama di negara ini. Dengan membangun rumah selain uang kami tidak hilang maka bila kami memutuskan untuk pindah suatu hari nanti rumah tersebut dapat dijual kembali. Kebetulan pada saat itu juga peraturan negara memungkinkan warga negara asing membeli property sama dengan warga negara lokal sehingga posisi kami aman.
Yang menjadi masalah pada saat itu adalah uang tabungan yang kami punya tidak mencukupi dari budget yang diajukan oleh kontraktor kami. Tapi karena kami sudah terdesak untuk pindah maka tanahpun kami beli terlebih dahulu dan berencana untuk membangunnya pelan-pelan sambil menunggu uang cukup terkumpul. Salah satu cara menghemat yaitu mulai saat pemilihan gambar serta desainnya kami coba untuk tangani sendiri, dan kebetulan juga kontaraktornya adalah juga teman suami sehingga kami mendapatkan diskon khusus.
![]() |
| Dapur tempat saya bereksperimen dan menghilangkan stress |
Rumah idaman ini pun akhirnya dapat berdiri karena buah cinta dan perjuangan kami, walaupun rumah yang seharusnya berdiri dalam jangka waktu 4 bulan akhirnya selesai dalam waktu setahun. Bersyukur juga kami saat itu karena pimpinan ternyata berubah pikiran dan tidak jadi menjual kantor lama tempat dimana kami tinggal, sehingga kami bisa sedikit lebih lama menempatinya dan itu berarti kami bisa terus menabung untuk dapat menyelesaikan rumah idaman kami tersebut.
Walaupun rumah kami sederhana dan kecil tapi cukup komplit, dan semua detail kami buat dengan cermat, setiap sudut menggambarkan keinginan kami. Setahap demi setahap akhirnya siap dihuni dan kami benar-benar puas karena rumah tersebut benar-benar bentuk perwujutan dari gabungan keinginan kami berdua.
Di rumah kecil dan sederhana ini semua hobby kami berdua dapat tersalurkan, seperti saya yang hobby memasak dan menanam tanaman serta suami yang hobby mencuci mobil serta berkebun dapat menyalurkannya karena kami memiliki dapur yang walaupun tidak luas tetapi nyaman untuk memasak dan halaman depan belakang mungil yang cukup untuk berkebun serta garasi untuk mencuci mobil. Begitu pula dengan anak saya, dia sangat menyukai rumah kecil ini, buatnya rumah ini adalah rumah pertamanya, tempat dimana dia tumbuh besar, rumah tempatnya bermain-main. Pokoknya semua kami buat senyaman mungkin agar kami semua betah berlama-lama tinggal dirumah mungil kami.
Sampai akhirnya tiba waktunya untuk melepaskan rumah ini. Sebenarnya keputusan untuk pindah adalah keputusan terberat buat kami, kontrak suami yang hampir habis dan keinginan kami untuk kembali ketanah air yang membuat kami harus menjual rumah tercinta ini. Pencarian pembelipun dimulai, dan memang walaupun tidak mudah mendapatkannya tapi akhirnya kami mendapatkan seseorang yang cocok dengan rumah kami tersebut.
Dengan rasa sedih akhirnya kami harus melepaskannya. Harapan saya semoga saja pembeli yang baru tersebut juga memiliki rasa cinta yang sama dan rasa sayang serta rasa nyaman yang sama, seperti apa yang kami rasakan selama kami tinggal di rumah ini. Dan buat kami sendiri semoga saja semua kenangan indah selama berada di rumah kami tersebut dapat kami bawa terus dan juga rasa nyaman dan kehangatan selama tinggal di rumah tercinta ini akan kami dapatkan lagi dimanapun nantinya kami akan tinggal.
Saturday, April 13, 2013
Aluth Avurudu
Tanggal 13 April dan 14 April adalah merupakan hari libur Nasional di Srilanka. Pada hari ini seluruh masyarakat Singhalese dan Tamil merayakan tahun baru mereka. Perayaan yang sangat kental dipengaruhi oleh astrologi dan kalender Budha yang secara tradisional juga menandai berakhirnya musim kemarau dan musim panen. Seperti dalam banyak kebudayaan di seluruh dunia, tahun baru dipandang sebagai waktu pembaharuan yaitu waktu berakhirnya tahun yang lama dan berganti dengan tahun yang baru dan harapan yang baru, dan di Sri Lankapun juga tidak berbeda. Oleh karena itu banyak ritual yang di kerjakan untuk menyambut datangnya harapan baru tersebut.
Perayaan tahun baru di Srilanka ini tidak berbeda dengan tahun baru di banyak negara lain di Asia, dimana akhir tahun lama dan awal tahun baru ditentukan dan dihitung berdasarkan perhitungan Astrologi, yaitu dimulai ketika matahari mulai melintas batas antara Meena Rashiya (rumah Pieces) ke Mesha Rashiya (rumah Aries) dan berakhir ketika persimpangan selesai. Titik tengah antara perlintasan itulah yang dianggap sebagai fajar baru, titik dimana matahari saat itu tepat berada diatas Srilanka.
Banyak ritual dijalankan dalam menyambut tahun baru ini, beberapa hari sebelumnya rumah-rumah dibersihkan dan para wanita sibuk membuat kue-kue traditional mereka. Sehari sebelum tahun baru tiba dilakukan ritual mandi, dengan mengoleskan sejenis minyak herbal yang terbuat dari tumbuhan Nuga ke kepala. Mandi ini bertujuan untuk menyucikan diri dan pikiran menuju tahun yang lebih baik. Kemudian sambil menunggu datangnya tahun baru mereka berusaha untuk menahan diri dari sifat-sifat dan aktivitas yang mengejar materi dengan memperbanyak kegiatan keagamaan dan berinterospeksi diri, periode ini mereka sebut dengan periode netral, yaitu periode menunggu saat pergantian tahun.
Setelah tahun baru tiba yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 14 April jam 1.29 pagi para laki-laki pemimpin keluarga mengajak seluruh keluarganya untuk berkumpul bersama, menyalakan lampu, memberikan sirih kepada para orang tua sebagai tanda cinta kasih, memasak kiribath (sejenis nasi yang dimasak dengan santan) dan memakannya beserta seluruh keluarga sebagai hidangan pertama di tahun baru ini. Mamasak kiribath haruslah sampai tumpah ruah dari tempatnya yang berarti menandakan kemakmuran di tahun yang baru.
Mereka juga memakai baju baru sesuai dengan warna yang di sarankan Astrologi untuk tahun 2013 ini warna mereka adalah Indigo (biru). Di desa-desa musik drum tradisional raban yang terbuat dari kulit kambing dimaninkan oleh para wanita, petasan dibunyikan, anak-anakpun dibiarkan bersama-sama bermain di halaman, begitu juga banyak permainan-permainan lain dimainkan oleh para orang dewasa dan anak-anak, semua orang gembira menyambut tahun yang baru.
Pada saat itu kuil dan vihara juga akan penuh sesak dengan orang-orang yang memberikan persembahan dan menerima berkat dari para biksu.
Ritual lain yang sering dilakukan adalah saling mengunjungi keluarga dan kerabat dekat juga para tetangga. Biasanya mereka membawa bingkisan berupa kue-kue traditional yang tebuat dari beras dan juga buah pisang. Makanan traditional ini sangat berperan penting dalam perayaan karena menandakan berbaginya rasa syukur terhadap apa yang telah didapat di tahun sebelumnya.
Semoga saja tahun yang baru menjadi tahun yang lebih baik dari tahun kemaren....Suba Aluth Avurudu Wewa Srilanka....
Perayaan tahun baru di Srilanka ini tidak berbeda dengan tahun baru di banyak negara lain di Asia, dimana akhir tahun lama dan awal tahun baru ditentukan dan dihitung berdasarkan perhitungan Astrologi, yaitu dimulai ketika matahari mulai melintas batas antara Meena Rashiya (rumah Pieces) ke Mesha Rashiya (rumah Aries) dan berakhir ketika persimpangan selesai. Titik tengah antara perlintasan itulah yang dianggap sebagai fajar baru, titik dimana matahari saat itu tepat berada diatas Srilanka.
Banyak ritual dijalankan dalam menyambut tahun baru ini, beberapa hari sebelumnya rumah-rumah dibersihkan dan para wanita sibuk membuat kue-kue traditional mereka. Sehari sebelum tahun baru tiba dilakukan ritual mandi, dengan mengoleskan sejenis minyak herbal yang terbuat dari tumbuhan Nuga ke kepala. Mandi ini bertujuan untuk menyucikan diri dan pikiran menuju tahun yang lebih baik. Kemudian sambil menunggu datangnya tahun baru mereka berusaha untuk menahan diri dari sifat-sifat dan aktivitas yang mengejar materi dengan memperbanyak kegiatan keagamaan dan berinterospeksi diri, periode ini mereka sebut dengan periode netral, yaitu periode menunggu saat pergantian tahun.
Setelah tahun baru tiba yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 14 April jam 1.29 pagi para laki-laki pemimpin keluarga mengajak seluruh keluarganya untuk berkumpul bersama, menyalakan lampu, memberikan sirih kepada para orang tua sebagai tanda cinta kasih, memasak kiribath (sejenis nasi yang dimasak dengan santan) dan memakannya beserta seluruh keluarga sebagai hidangan pertama di tahun baru ini. Mamasak kiribath haruslah sampai tumpah ruah dari tempatnya yang berarti menandakan kemakmuran di tahun yang baru.
Mereka juga memakai baju baru sesuai dengan warna yang di sarankan Astrologi untuk tahun 2013 ini warna mereka adalah Indigo (biru). Di desa-desa musik drum tradisional raban yang terbuat dari kulit kambing dimaninkan oleh para wanita, petasan dibunyikan, anak-anakpun dibiarkan bersama-sama bermain di halaman, begitu juga banyak permainan-permainan lain dimainkan oleh para orang dewasa dan anak-anak, semua orang gembira menyambut tahun yang baru.
Pada saat itu kuil dan vihara juga akan penuh sesak dengan orang-orang yang memberikan persembahan dan menerima berkat dari para biksu.
Ritual lain yang sering dilakukan adalah saling mengunjungi keluarga dan kerabat dekat juga para tetangga. Biasanya mereka membawa bingkisan berupa kue-kue traditional yang tebuat dari beras dan juga buah pisang. Makanan traditional ini sangat berperan penting dalam perayaan karena menandakan berbaginya rasa syukur terhadap apa yang telah didapat di tahun sebelumnya.
Semoga saja tahun yang baru menjadi tahun yang lebih baik dari tahun kemaren....Suba Aluth Avurudu Wewa Srilanka....
Thursday, February 28, 2013
Cake Ulang Tahun Jajan Pasar
![]() |
| Cake ultah tahun ini, dari jajan pasar |
Tanggal 28 Februari adalah hari istimewa buat saya, pada hari inilah beberapa puluh tahun yang lalu saya dilahirkan. Ada banyak cerita tentang kelahiran saya yang diceritakan kembali oleh orang tua, kakek dan nenek maupun keluarga lainnya, tapi yang amat jelas saya ingat adalah bahwa saya yang lahir premature dan dilahirkan diatas jeep yang mengantar ibu saya ke rumah sakit dapat selamat dan sehat sampai sekarang adalah berkat dari perawatan luar biasa nenek saya. Orang tua saya bercerita sewaktu saya lahir kondisi saya belum sempurna seperti bayi2 lainnya, para dokter menyatakan kalaupun saya hidup kemungkinan akan cacatnya besar sekali, peralatan medispun dahulu tidak secanggih sekarang, tapi nenek saya tetap berkeras untuk membawa saya pulang dan merawatnya sendiri tanpa bantuan siapapun dengan peralatan yang sederhana, dan ternyata memang berkat rasa percaya dari beliaulah saya bisa seperti sekarang.
Diluar cerita heboh tentang proses kelahiran dan perawatan saya yang luar biasa ternyata untuk merayakan hari jadi tersebut saya sendiri kurang menyukainya, terutama kalau harus membuat pesta. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam membuat pesta ulang tahun, tapi terkadang membuat saya merasa tidak nyaman saja.
Mungkin ketidak sukaan saya ini karena beberapa kali berada di sebuah pesta selalu saja ada kejadian yang tidak mengenakkan dan itu membuata saya malas.
Kejadian-kejadian yang saya ingat dimulai saat saya kecil. Dahulu orang tua saya selalu memaksa saya dan adik saya untuk memakai pakaian yang "pantas" kalau hendak datang ke pesta atau kalau kita membuat pesta. Karena menurut mereka dengan berpakaian yang "pantas" maka kita berarti sudah menghormati tamu yang datang atau orang yang mengundang kita. Dan itu artinya saya harus memakai rok dengan renda2 juga sepatu lengkap dengan kaos kaki. Pakaian yang paling tidak saya sukai karena membayangkannya saja sudah membuat saya berkeringat apalagi memakainya...Sudah pasti sepanjang pesta saya akan merasa tidak nyaman, kepanasan dan sibuk menggaruk2 tanpa bisa menikmati pesta yang berlangsung.
Pernah pula suatu ketika saya mendapat undangan ulang tahun dari seorang saudara, dalam undangan hanya disebutkan tempatnya di sebuah hotel berbintang yang amat terkenal saat itu, karena di hotel sudah tentu orang tua saya berusaha mendandani saya dengan maksimal, dan apa yang terjadi adalah ternyata tempat ulang tahunnya di halaman belakang hotel yaitu bertema out door party, semua anak mengenakan pakaian main mereka....saya amat marah sekali karena saya merasa tidak nyaman, beda sendiri dan harus menahan panas, gatal dan semua rasa yang ada, yang jelas saya tidak bisa bebas bermain. Sejak saat itu saya memutuskan untuk tidak datang atau membuat pesta ulang tahun lagi.
![]() |
| Hiasan bunga dari kue ku/ kue thok |
Sewaktu saya dewasa sudah jauh dari orang tua dan tidak lagi diatur-atur keengganan saya datang ke pesta masih terus berlanjut, walaupun sudah agak sering juga saya datang ke beberapa pesta yang diadakan teman dekat saja. Pernah juga ada kejadian tidak mengenakkan saat saya berulang tahun yang masih teringat sampai sekarang. Ceritanya ketika itu saya sudah bekerja, dan seperti biasa kalau ada yang berulang tahun diantara teman sekerja maka wajib mentraktir. Waktu itu saya putuskan untuk merayakan ulang tahun saya di sebuah tempat makan di mall besar di kota tempat saya tinggal. Pesta diawali dengan makan malam sepulang kerja dan dilanjutkan dengan bermain di tempat permainan yang banyak di mall2. Sebenarnya awalnya baik-baik saja tapi entah kenapa kemudian ada beberapa teman yang mulai berselisih paham tentang pekerjaan yang merembet ke masalah pribadi, pada akhirnya kami pulang sendiri-sendiri dengan perasaan yang tidak enak dan rasa kesal. Belum habis rasanya kesialan saya, malam itu saya terjatuh dari tangga dan yang paling parah adalah patahnya hak sepatu kesayangan saya, benar-benar ulang tahun kelabu.
Setelah saya menikah, otomatis saya terbebas dari membuat pesta ulang tahun karena ternyata hari ulang tahun saya dan suami berdekatan, jadi lebih nyaman kalau kita merayakannya bersama, dan karena ulang tahun suami belakangan maka saya ambil tanggal ulang tahunnya yang kita rayakan. Biasanya sich kita tidak membuat pesta, hanya makan-makan bersama orang-orang terdekat saja.
Tahun inipun sama seperti tahun lalu, tidak ada pesta untuk saya, tapi karena pada bulan ini saya yang mendapatkan arisan, maka saya hanya membuat cake hias yang terbuat dari jajan pasar. Cake ini terbuat dari kue lapis yang saya bentuk hati dan dihias memakai hiasan bunga yang terbuat dari "kue ku", saya sertakan juga lumpur pumpkin dan combro daging sebagai pendampingnya. Hiasan bunga ini terinspirasi oleh "kue kembang seruni" yang ada di blognya mbak Hesti . Salah sebuah blog yang saya kagumi dan saya ikuti sebagai panutan. Untuk jajan pasar yang lain di cake ulang tahun saya ini semua resepnya bisa dicari di blog saya.
Doa saya tahun ini sederhana saja dan sama dengan tahun-tahun lalu, semoga saja dengan bertambahnya umur dapat diberikan yang terbaik, barokah, dan terus dalam lindunganNya. Tidak lupa juga saya ucapkan rasa syukur yang luar biasa karena telah diberikan kenikmatan yang amat besar di hari-hari kemaren.
Sunday, January 20, 2013
Liburan
Seperti layaknya semua orang yang tinggal jauh di luar negri tentu saja kesempatan berlibur kembali ke tanah air menjadi saat yang ditunggu-tunggu, begitupun dengan saya. Beberapa saat sebelum keberangkatan kami sudah tentu merupakan hari-hari yang sibuk, tidak saja mempersiapkan segala hal kebutuhan rumah selama kita tinggal juga yang pasti adalah mempersiapkan segala keperluan yang akan di bawa selama liburan, termasuk tentunya mempersiapkan oleh-oleh. Membeli oleh-oleh ini merupakan ritual wajib yang setiap kali dilakukan pada saat pulang ke tanah air, maklumlah kami yang tinggal jauh dari sanak keluarga tentunya ingin sekali memberikan sedikit bingkisan kenang-kenangan pada keluarga yang telah lama kita tinggalkan. Membagi sedikit kebahagiaan ini merupakan hal yang ditunggu2, mulai dari membuat list siapa saja yang akan diberi, sampai memilihkan barang apa yang akan dibeli, sudah merupakan kesibukan yang menyenangkan buat kami. Biasanya saya hanya membelikan untuk keluarga dekat saja dan memilih barang-barang kecil murah meriah yang menjadi ciri khas negara kami tempat kami tinggal.
Setelah semua oleh-oleh sudah komplit mulailah kami bebenah, mengisi koper dan membuat daftar apa saja yang akan kami kerjakan selama liburan juga membuat daftar barang apa saja yang akan kami bawa kembali ke srilanka. Ternyata membuat daftar seperti ini tidak semudah yang kami kira. Kesulitan ini karena kami harus memilah apa yang paling penting terlebih dahulu dan disesuaikan dengan budget yang ada, dan seperti biasa memerlukan perdebatan panjang pendek karena ternyata semua tampak penting sekali.....terutama di daftar belanja makanan.....Dan akhirnya kami putuskan untuk tidak membuat daftar apa-apa, karena tetap tidak sepaham untuk mengurangi daftar tersebut.
Akhirnya hari H pun tiba, semua sudah siap. Perjalanan panjang yang kami lakukan antara colombo-singapore-surabaya-malang dapat kami tempuh dengan lancar tanpa hambatan. Sedikit surprise juga karena petugas imigrasi indonesia yang biasanya galak, rewel dan berbelit sekarang ternyata sudah jinak, tidak mempersulit seperti biasanya, suatu kemajuan yang menyenangkan pikir saya. Setelah selesai melepaskan kangen dengan sanak keluarga hal pertama yang harus dikerjakan adalah mulai berburu makanan.
Banyak sekali perubahan tempat-tempat makan di kota Malang, hampir disetiap sudut ada tempat makan baru, mulai dari makanan traditional sampai makanan mancanegara. Sedikit bingung juga memilih mau makan apa, tapi buat saya sendiri tempat-tempat makan yang lama tetap menjadi tujuan utama. Dimulai dari bakso presiden, bakso kota, sekul duck, sate ayam belakang ramayana, pecel kawi dan jl.tampak siring, sate kambing bunul, gorengan, jajan pasar, cwimie gajah mada dan gank jangkrik, soto lombok, nasi buk madura, rawon dan sate komoh, rujak cingur, juga makanan khas malang lainnya semua sudah saya coba maka barulah mencoba tempat-tempat makan baru.
Kebanyakan tempat-tempat makan baru ini menawarkan menu yang sangat bervariasi, mulai dari restauran dengan menu makanan indonesia, jepang dan korea, china ala kopi tiam, ataupun aneka steak dan coffe shop. Sayangnya saya sendiri kurang tertarik dengan menu-menu yang ditawarkan tempat-tempat makan baru ini. Mungkin mereka memang punya tempat yang nyaman, bagus, bersih dan modern dengan segala fasilitas wifi dll, tapi menu makanan yang ditonjolkan kurang memberikan kesan buat saya, kurang ada gregetnya dan tidak cukup khas malang. Memang ada beberapa seperti ayam goreng jogja, ayam goreng pak No, dan ayam bacem Dau yang relatif agak baru walaupun tidak juga bisa dibilang baru karena dulunya mereka merupakan warung kecil dan sekarang memiliki tempat sendiri yang luas dan modern, mereka cukup sukses mengusung menu makanan yang menjadi ciri khas mereka dan dapat melekat di hati warga malang perantauan seperti saya, tapi tempat-tempat lainnya walaupun makanannya enak kita bisa mendapatkannya di kota lain.
Akhirnya perburuan makanan ini juga harus diakhiri dengan berakhirnya masa liburan kita, rasanya walaupun ada juga yang belum sempat di cicipi dan terlewatkan tapi sudah cukup puas karena sebagian besar sudah didatangi. Oleh-oleh dan bahan makanan yang akan dibawa kembali ke colombo pun sudah mulai ditata di koper, mulai dari aneka keripik buah-buahan, keripik tempe, keripik ubi dan keripik2 lainnya serta pia mangkok semua komplit tertata. Berat rasanya meninggalkan kembali semua keluarga dan kota tercinta ini menuju kembali ke perantauan nun jauh di seberang lautan, tapi akan selalu ada harapan untuk kembali kekota ini....kota Malang yang penuh dengan kenangan...... Sampai liburan berikutnya tentunya.......
![]() |
| Sebagian jajanan yang bikin kangen |
Setelah semua oleh-oleh sudah komplit mulailah kami bebenah, mengisi koper dan membuat daftar apa saja yang akan kami kerjakan selama liburan juga membuat daftar barang apa saja yang akan kami bawa kembali ke srilanka. Ternyata membuat daftar seperti ini tidak semudah yang kami kira. Kesulitan ini karena kami harus memilah apa yang paling penting terlebih dahulu dan disesuaikan dengan budget yang ada, dan seperti biasa memerlukan perdebatan panjang pendek karena ternyata semua tampak penting sekali.....terutama di daftar belanja makanan.....Dan akhirnya kami putuskan untuk tidak membuat daftar apa-apa, karena tetap tidak sepaham untuk mengurangi daftar tersebut.
Akhirnya hari H pun tiba, semua sudah siap. Perjalanan panjang yang kami lakukan antara colombo-singapore-surabaya-malang dapat kami tempuh dengan lancar tanpa hambatan. Sedikit surprise juga karena petugas imigrasi indonesia yang biasanya galak, rewel dan berbelit sekarang ternyata sudah jinak, tidak mempersulit seperti biasanya, suatu kemajuan yang menyenangkan pikir saya. Setelah selesai melepaskan kangen dengan sanak keluarga hal pertama yang harus dikerjakan adalah mulai berburu makanan.
Banyak sekali perubahan tempat-tempat makan di kota Malang, hampir disetiap sudut ada tempat makan baru, mulai dari makanan traditional sampai makanan mancanegara. Sedikit bingung juga memilih mau makan apa, tapi buat saya sendiri tempat-tempat makan yang lama tetap menjadi tujuan utama. Dimulai dari bakso presiden, bakso kota, sekul duck, sate ayam belakang ramayana, pecel kawi dan jl.tampak siring, sate kambing bunul, gorengan, jajan pasar, cwimie gajah mada dan gank jangkrik, soto lombok, nasi buk madura, rawon dan sate komoh, rujak cingur, juga makanan khas malang lainnya semua sudah saya coba maka barulah mencoba tempat-tempat makan baru.
Kebanyakan tempat-tempat makan baru ini menawarkan menu yang sangat bervariasi, mulai dari restauran dengan menu makanan indonesia, jepang dan korea, china ala kopi tiam, ataupun aneka steak dan coffe shop. Sayangnya saya sendiri kurang tertarik dengan menu-menu yang ditawarkan tempat-tempat makan baru ini. Mungkin mereka memang punya tempat yang nyaman, bagus, bersih dan modern dengan segala fasilitas wifi dll, tapi menu makanan yang ditonjolkan kurang memberikan kesan buat saya, kurang ada gregetnya dan tidak cukup khas malang. Memang ada beberapa seperti ayam goreng jogja, ayam goreng pak No, dan ayam bacem Dau yang relatif agak baru walaupun tidak juga bisa dibilang baru karena dulunya mereka merupakan warung kecil dan sekarang memiliki tempat sendiri yang luas dan modern, mereka cukup sukses mengusung menu makanan yang menjadi ciri khas mereka dan dapat melekat di hati warga malang perantauan seperti saya, tapi tempat-tempat lainnya walaupun makanannya enak kita bisa mendapatkannya di kota lain.
Akhirnya perburuan makanan ini juga harus diakhiri dengan berakhirnya masa liburan kita, rasanya walaupun ada juga yang belum sempat di cicipi dan terlewatkan tapi sudah cukup puas karena sebagian besar sudah didatangi. Oleh-oleh dan bahan makanan yang akan dibawa kembali ke colombo pun sudah mulai ditata di koper, mulai dari aneka keripik buah-buahan, keripik tempe, keripik ubi dan keripik2 lainnya serta pia mangkok semua komplit tertata. Berat rasanya meninggalkan kembali semua keluarga dan kota tercinta ini menuju kembali ke perantauan nun jauh di seberang lautan, tapi akan selalu ada harapan untuk kembali kekota ini....kota Malang yang penuh dengan kenangan...... Sampai liburan berikutnya tentunya.......
Thursday, August 2, 2012
Ramadhan di Srilanka
Mengikuti dan mengamati Ramadhan di negara orang tentunya banyak pengalaman yang berbeda dengan merayakan Ramadhan di negara sendiri. Karena Srilanka mayoritas masyarakatnya beragama Budha maka Ramadhan dirayakan tidak semeriah seperti di Indonesia, walaupun begitu gema Ramadhan ini masih bisa dirasakan juga. Banyak pertokoan atau supermarket yang memberikan fasilitas berbuka puasa bagai karyawannya yang muslim juga jam istirahat siang bagi mereka. Gema Ramadhan juga sangat terasa di keluarga-keluarga muslim terutama muslim melayu yang memang banyak di Srilanka. Warga melayu ini memiliki tradisi tersendiri untuk merayakan Ramadhan dan Hari Raya yang mirip dengan tradisi di negara kita.
Memang bangsa melayu di Srilanka ini selain yang datang dari semenanjung malaka maka mayoritas dari mereka adalah yang berasal dari Indonesia khususnya orang Jawa. Dikenal dengan sebutan setempat Ja-minissu (Javanese people) datang ke Srilanka secara bertahap dan bergelombang. Orang-orang Jawa gelombang pertama adalah ketika raja Jawa yaitu raja Chandrabanu menduduki Srilanka sekitar abad ke 13 dengan membawa pasukan. Bukti sejarah ini dapat dilihat dari nama-nama daerah yang menunjukkan peninggalannya seperti Java Patnam (Jaffna), Java Kachcheri (Chavakachari), Ja-ella dan Hambantota (pulau hamba). Banyak dari pengikutnya kemudian menikah dengan penduduk setempat dan tinggal menetap di negara ini. Akan tetapi kebudayaan malay muslim sendiri mulai dikenal setelah gelombang ke-dua kedatangan orang Jawa di Srilanka. Gelombang ke dua ini datang ketika pemerintah Belanda membuang tahanan politik ke tanah Ceylon (Srilanka) yang dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai "disailankan" atau dibuang. Mereka datang dengan semua keluarga dan pengikutnya dimulai dari Pangeran Adipati Amangkurat III (Sunan Mas) pada abad ke 17 dan kemudian diikuti oleh beberapa keturunan ningrat Indonesia lainnya seperti Putra Mahkota Tidore, Pangeran Madura, Raja Kupang, Raja Padang, Raja Gowa dan beberapa Pangeran serta Adipati dari tanah Jawa yang saat itu memberontak dan tertangkap. Gelombang setelahnya pemerintah Belanda membawa tahanan non politik serta bala tentara dan budak. Para budak biasanya diambil dari Maluku dan Nusa tenggara, mereka dipekerjakan mulai dari pelabuhan sampai di perkebunan.
Orang-orang melayu ini dahulu biasanya tinggal berkelompok-kelompok. Sampai sekarang ada beberapa tempat di pusat kota Colombo yang diabadikan sebagai tempat keberadaan orang melayu ini seperti Java lane di Slave Island yang konon dulunya merupakan pulau di tengah Danau Baira tempat para budak dikumpulkan dan diasingkan. Dan Java lane adalah tempat para budak yang berasal dari Jawa. Walaupun sekarang pulau tersebut sudah menyatu dengan daratan dan menjadi pusat perkantoran dan bisnis tetapi nama Java lane dan perkampungannya tetap ada. Ada pula Malay street, Jalan Padang, dan Jawatte yang disitu juga dibangun sebuah mesjid oleh keturunan Raja Gowa yang diasingkan.
Selain dari nama-nama tempat dan jalan, keberadaan melayu keturunan Indonesia ini sampai sekarang bisa dilihat dari nama keluarganya seperti Jaya, Bongso, Wirabangsa, Nilawangsa, Kutthilan, Tumarto, Kitchil, Kuncheer, Singalaksana, dan lain2.
Untuk hidangan Ramadhan sendiri mereka mempunyai kebiasaan menghidangkan "Kanji dan Wattalapan."
Kanji dihidangkan sebagai hidangan berbuka berupa bubur beras encer yang dimasak dengan daging ayam atau sapi dan santan. Kanji biasanya dihidangkan pertama kali dan dimakan saat hangat, dipercaya dapat menghangatkan perut setelah seharian berpuasa. Sedang Wattalapan adalah sejenis puding srikaya yang terbuat dari telur, gula merah dan santan beraroma kayu manis yang kuat dan dihidangkan dengan taburan kismis dan kacang mede, dimakan sebagai dessert setelah makan besar. Kedua makanan ini tidak pernah ketinggalan dan menjadi ritual saat berbuka bagi keluarga muslim malay dan mereka juga akan mengirimkannya sebagai bingkisan ke keluarga muslim lainnya. Acara bertukar makanan ini terus berlangsung sampai dengan Hari Raya tiba.
Pada Hari Raya selain membuat berbagai kueh-kueh mereka juga selalu menyediakan "pitthu dan satay". Pitthu ini terbuat dari tepung beras dan kelapa, dilihat dari bentuk dan cara pengerjaannya mirip seperti "kue putu" di negara kita, hanya saja jauh lebih besar (hampir sebesar lontong) dan gurih karena tidak diisi gula merah. Walaupun sekarang pitthu banyak dijual sebagai hidangan breakfast dan diner dan dihidangkan beserta sambol atau curry tetapi pitthu dan satay tetap merupakan hidangan special tradisi masyarakat muslim malay saat hari raya tiba dan dinikmati beserta seluruh keluarga yang datang saling berkunjung setelah selesai Shalat Idhul Fitri.
Mengamati berbagai kebiasaan masyarakat terutama masyarakat muslim malay di Srilanka ternyata bisa mendekatkan kita akan rindu Ramadhan di negara sendiri, apalagi ternyata kebiasaan tersebut amat dekat dengan sejarah tanah leluhur. Walaupun jauh dirintangi oleh lautan luas, gemanya akan terasa dekat dan lekat dihati, mungkin juga seperti apa yang dirasakan oleh para leluhur kita yang tecabut dari tanah leluhurnya, dari masyarakatnya serta terbuang jauh di tanah yang asing sebagai orang buangan, tetapi dengan tetap berusaha mengumpulkan dan menghidupkan semua kebiasaan dan adat istiadat yang tersisa maka akan mengembalikan sedikit jati dirinya di tanah yang kemudian akan menjadi sebuah tanah harapan.
*Foto dan tulisan bersumber pada artikel, blog, dan bacaan yang ada di google.
![]() |
| Malay Srilanka tempo dulu |
Memang bangsa melayu di Srilanka ini selain yang datang dari semenanjung malaka maka mayoritas dari mereka adalah yang berasal dari Indonesia khususnya orang Jawa. Dikenal dengan sebutan setempat Ja-minissu (Javanese people) datang ke Srilanka secara bertahap dan bergelombang. Orang-orang Jawa gelombang pertama adalah ketika raja Jawa yaitu raja Chandrabanu menduduki Srilanka sekitar abad ke 13 dengan membawa pasukan. Bukti sejarah ini dapat dilihat dari nama-nama daerah yang menunjukkan peninggalannya seperti Java Patnam (Jaffna), Java Kachcheri (Chavakachari), Ja-ella dan Hambantota (pulau hamba). Banyak dari pengikutnya kemudian menikah dengan penduduk setempat dan tinggal menetap di negara ini. Akan tetapi kebudayaan malay muslim sendiri mulai dikenal setelah gelombang ke-dua kedatangan orang Jawa di Srilanka. Gelombang ke dua ini datang ketika pemerintah Belanda membuang tahanan politik ke tanah Ceylon (Srilanka) yang dikenal oleh masyarakat Jawa sebagai "disailankan" atau dibuang. Mereka datang dengan semua keluarga dan pengikutnya dimulai dari Pangeran Adipati Amangkurat III (Sunan Mas) pada abad ke 17 dan kemudian diikuti oleh beberapa keturunan ningrat Indonesia lainnya seperti Putra Mahkota Tidore, Pangeran Madura, Raja Kupang, Raja Padang, Raja Gowa dan beberapa Pangeran serta Adipati dari tanah Jawa yang saat itu memberontak dan tertangkap. Gelombang setelahnya pemerintah Belanda membawa tahanan non politik serta bala tentara dan budak. Para budak biasanya diambil dari Maluku dan Nusa tenggara, mereka dipekerjakan mulai dari pelabuhan sampai di perkebunan.
Orang-orang melayu ini dahulu biasanya tinggal berkelompok-kelompok. Sampai sekarang ada beberapa tempat di pusat kota Colombo yang diabadikan sebagai tempat keberadaan orang melayu ini seperti Java lane di Slave Island yang konon dulunya merupakan pulau di tengah Danau Baira tempat para budak dikumpulkan dan diasingkan. Dan Java lane adalah tempat para budak yang berasal dari Jawa. Walaupun sekarang pulau tersebut sudah menyatu dengan daratan dan menjadi pusat perkantoran dan bisnis tetapi nama Java lane dan perkampungannya tetap ada. Ada pula Malay street, Jalan Padang, dan Jawatte yang disitu juga dibangun sebuah mesjid oleh keturunan Raja Gowa yang diasingkan.
Selain dari nama-nama tempat dan jalan, keberadaan melayu keturunan Indonesia ini sampai sekarang bisa dilihat dari nama keluarganya seperti Jaya, Bongso, Wirabangsa, Nilawangsa, Kutthilan, Tumarto, Kitchil, Kuncheer, Singalaksana, dan lain2.
![]() |
| Pitthu, watthalapan dan kanji |
Keturunan mereka inilah yang kemudian membawa pula berbagai kebiasaan dan adat istiadat dari tanah leluhur termasuk makanan, pakaian, kebiasaan dan agama, berbaur dengan masyarakat setempat dan menghasilkan budaya baru yaitu budaya Malay Srilanka. Budaya inilah yang kemudian mereka turunkan sampai saat ini, seperti cara berpakaian mereka memperkenalkan penggunaan sarung bagi laki-laki dan cara pembuatan batik sehingga batik srilanka sangat dikenal sampai sekarang. Adat istiadat dan kebudayaanpun juga banyak mempengaruhi kebiasaan masyarakat setempat, seperti kerajinan membuat rotan adalah salah satunya. Untuk bahasa mereka memilih bahasa melayu sebagai bahasa sehari-hari yang dipakai masyarakat malay srilanka. Bahasa ini adalah bahasa Indonesia baku yang bercampur dengan bahasa sanskrit dan arab. Berbagai jenis makanan juga diperkenalkan, makanan yang dibawa oleh keturunan melayu dari Indonesia ini amat popular di masyarakat Srilanka, makanan itu yaitu nasi goreng, satay, malay kueh (berupa puding dan cake), pitthu dan babath.
Untuk hidangan Ramadhan sendiri mereka mempunyai kebiasaan menghidangkan "Kanji dan Wattalapan."
Kanji dihidangkan sebagai hidangan berbuka berupa bubur beras encer yang dimasak dengan daging ayam atau sapi dan santan. Kanji biasanya dihidangkan pertama kali dan dimakan saat hangat, dipercaya dapat menghangatkan perut setelah seharian berpuasa. Sedang Wattalapan adalah sejenis puding srikaya yang terbuat dari telur, gula merah dan santan beraroma kayu manis yang kuat dan dihidangkan dengan taburan kismis dan kacang mede, dimakan sebagai dessert setelah makan besar. Kedua makanan ini tidak pernah ketinggalan dan menjadi ritual saat berbuka bagi keluarga muslim malay dan mereka juga akan mengirimkannya sebagai bingkisan ke keluarga muslim lainnya. Acara bertukar makanan ini terus berlangsung sampai dengan Hari Raya tiba.
Pada Hari Raya selain membuat berbagai kueh-kueh mereka juga selalu menyediakan "pitthu dan satay". Pitthu ini terbuat dari tepung beras dan kelapa, dilihat dari bentuk dan cara pengerjaannya mirip seperti "kue putu" di negara kita, hanya saja jauh lebih besar (hampir sebesar lontong) dan gurih karena tidak diisi gula merah. Walaupun sekarang pitthu banyak dijual sebagai hidangan breakfast dan diner dan dihidangkan beserta sambol atau curry tetapi pitthu dan satay tetap merupakan hidangan special tradisi masyarakat muslim malay saat hari raya tiba dan dinikmati beserta seluruh keluarga yang datang saling berkunjung setelah selesai Shalat Idhul Fitri.
Mengamati berbagai kebiasaan masyarakat terutama masyarakat muslim malay di Srilanka ternyata bisa mendekatkan kita akan rindu Ramadhan di negara sendiri, apalagi ternyata kebiasaan tersebut amat dekat dengan sejarah tanah leluhur. Walaupun jauh dirintangi oleh lautan luas, gemanya akan terasa dekat dan lekat dihati, mungkin juga seperti apa yang dirasakan oleh para leluhur kita yang tecabut dari tanah leluhurnya, dari masyarakatnya serta terbuang jauh di tanah yang asing sebagai orang buangan, tetapi dengan tetap berusaha mengumpulkan dan menghidupkan semua kebiasaan dan adat istiadat yang tersisa maka akan mengembalikan sedikit jati dirinya di tanah yang kemudian akan menjadi sebuah tanah harapan.
*Foto dan tulisan bersumber pada artikel, blog, dan bacaan yang ada di google.
Thursday, July 14, 2011
Belajar Jualan
Siapa sangka kalau hobby main-main ternyata bisa mendatangkan uang juga. Saya ingat dulu saya sama sekali tidak tertarik dalam hal masak-memasak, tetapi karena saya hidup di negara orang yang jauh dari keluarga dan sanak saudara maka membuat saya berusaha untuk mulai menggeluti dunia masak-memasak. Pertama sich tentunya masakan sederhana untuk sehari-hari saja dulu, lama-lama mulai menapak sedikit-sedikit dan jatuh cinta pada dunia satu ini. Kecintaan saya pada dunia kuliner juga akibat dari dorongan teman-teman senior saya disini, dari merekalah saya banyak mendapatkan ilmu, dan tentunya karena saya juga suka makan.
Kesukaan saya akan makan enak terutama camilan-camilan tradisional mendorong saya untuk mulai berburu resep. Jatuh bangun pernah saya alami rasa bosan juga putus asa kadang juga menghampiri, bahkan sampai saat inipun ada beberapa resep traditional yang belum bisa saya taklukkan. Rasa penasaran ini yang membuat saya terus menimba ilmu dari para senior yang saya temui baik melalui buku-buku maupun internet juga kursus-kursus memasak. Melalui merekalah saya sedikit-sedikit mulai tahu rahasia-rahasia menaklukkan sebuah resep dan banyak juga tips-tips menarik yang mereka bagikan.
Dari semua uji coba resep inilah kemudian tercipta macam-macam makanan traditional yang saya buat dan akhirnya membuat saya dikenal oleh teman-teman dengan keahlian baru saya ini.
Walaupun begitu tetap tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk menerima orderan/pesanan, saya membuatnya untuk lingkungan keluarga saja, rasanya bangga bisa menghadirkan makanan traditional di acara2 keluarga, tapi kemudian dari mulut ke mulut mereka saling berbicara apalagi kita tinggal di luar Indonesia dimana makanan traditional negara kita merupakan barang langka dan sangat digemari, sehingga dari sanalah saya mulai menerima order-order tersebut. Pertama-tama memang order saya terima dari teman-teman dekat, dan sekarang mulai sedikit berkembang pada kenalan2 lainnya. Dan oleh sebab itu saya mulai berpikir untuk mulai sedikit profesional dalam mengerjakannya, bagaimanapun sedikit atau banyak orang memesan mereka sudah mengeluarkan uang dan percaya kepada kita jadi sebagai imbal baliknya tentu kita harus membuat mereka puas.
Sebagai penjualan dadakan tentunya banyak hal yang perlu diperhatikan dan dipelajari, dari perjalanan waktu selama ini dan masalah-masalah yang terkadang datang membuat kita belajar banyak dari kesalahan tersebut. Belajar meminimalkan kesalahan yang timbul membuat kita lebih pandai mengantisipasi apa yang akan terjadi kemudian dan bagaimana mengatasinya. Salah satu pembelajaran yang menurut saya penting adalah dengan mencoba menempatkan diri kita sebagai pembeli, apa yang diinginkan dan tidak disukai seorang pembeli ternyata sangatlah bermanfaat bagi para penjual pemula yang ingin usahanya terus berkembang dan berlanjut.
Sebagai langkah awal, ada beberapa hal penting yang juga perlu diperhatikan dan diketahui oleh seorang penjual pemula yaitu :
Diakui apa tidak menentukan harga jual suatu produk adalah langkah awal dalam berjualan setelah menentukan produk apa yang akan kita jual. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan yaitu biaya produksi, persaingan, permintaan dan keuntungan yang diharapkan. Cara yang paling gampang dalam menghitung biaya produksi adalah dengan memasukkan semua ongkos biaya produksi ditambah biaya lain (seperti tenaga kerja, transport, kemasan) dan juga nilai keuntungan yang diinginkan. Besarnya keuntungan tergantung pada masing-masing penjual. Setiap penjual biasanya mempunyai alasan dan kriteria sendiri dalam menentukan keuntungan yang ingin diperolehnya.
Perlu diingat bahwa kelebihan dari menjual produk makanan adalah keuntungan yang kita dapat bisa sangat tinggi apalagi kalau mendapat konsumen fanatik atau kita tidak punya saingan sama sekali dalam produk sejenis, tetapi yang juga harus diperhatikan ialah bahwa konsumen makanan juga sangat sensitif terhadap kenaikan harga. Beda-beda tipis saja bisa membuat mereka beralih ke produsen lain atau malah malas membeli dan mencoba membuatnya sendiri, apalagi sekarang semua resep makanan sudah bisa dengan mudah diperoleh melalui internet.
Di bawah ini ada contoh sederhana bagaimana menentukan harga jual untuk pisang coklat karamel yang saya dapat dari majalah koki. Perhitungan dibawah ini dilakukan dengan menganggap bahwa semua peralatan sudah ada dan tersedia dirumah.
Biaya Bahan :
- 15 pisang kepok Rp 5.000
- 30 lbr kulit lumpia Rp 1.500
- 150gr gula pasir Rp 1.000
- 4sdm air Rp 100
- 1 btr putih telur Rp 600
- 150gr DCC Rp 3.750
- Minyak goreng Rp 500
Biaya Non bahan :
- gas/bahan bakar Rp 1.000*
- Tenaga kerja Rp 5.000*
- Perawatan alat Rp 2.000*
- Kemasan Rp 500
- Transport Rp 1.000*
____________ +
Total biaya produksi Rp 25.950
*assumsi :
- Tenaga kerja utk 1 kali produksi
- Alat produksi memerlukan biaya perawatan
- Memakai LPG, harga tabung Rp 60.000 (utk 30 kali produksi)
- Transport yg diperkirakan untuk belanja bahan dan pengiriman produk
Hitungan diatas menghasilkan 10 bungkus dengan isi @3 bh pisang karamel coklat. Jadi harga pokok pisang karamel coklat perbungkus adalah Rp 25.950 : 10 = Rp 2.595 atau bisa dibulatkan menjadi Rp 2.600/ paketnya.
Dengan diketahuinya harga pokok produksi maka kita bisa menentukan harga jual dengan menambahkan keuntungan yang diinginkan.
Ada beberapa hal yang terkadang dilupakan seorang penjual apalagi pemula seperti saya dalam menentukan harga jual produk agar mampu bersaing dan berdaya jual tinggi tetapi juga mempunyai keuntungan yang sepadan yaitu :
- Menentukan keuntungan terlalu rendah. Perlu diperhatikan juga naik turunnya harga bahan baku dan bahan produksi lain dalam elemen keuntungan sehingga kita tetap tidak akan rugi kalau tiba2 ada kenaikan biaya mendadak.
- Kesalahan lain yang sering dibuat juga yaitu mereka memasukkan biaya terlalu tinggi, terutama untuk biaya bahan yang mengakibatkan harga jual menjadi tinggi. Misalkan untuk harga minyak goreng perliter anggaplah Rp 1.000, sedangkan dalam memproduksi kita hanya memerlukan 500ml maka harga yang kita cantumkan dalam biaya yang benar adalah sebesar Rp 500 saja.
II. Konsistensi, ini meliputi :
1. Konsistensi Harga
Coba saja perhatikan "harga" merupakan salah satu faktor penting dalam berjualan, karena harga merupakan suatu hal yang sangat sensitif dan mempengaruhi kelangsungan hidup usaha kita. Sedikit saja ada masalah dengan harga maka akan membuat pelanggan kecewa atau malah mulai beralih ke produsen lain. Sungguh tidak enak juga apabila kita jadi pembeli kalau membeli sesuatu barang yang sama harganya selalu berubah-ubah, atau selalu mendapat jawaban gampang nanti saja, tapi begitu jadi ternyata harganya sangatlah mahal walaupun itu dengan teman terdekat sekalipun. Oleh karena itu harga merupakan komponen yang penting dalam berjualan, dan harus dihitung dengan cermat agar ke dua belah pihak, baik si pembeli dan penjual tidak merasa kecewa dan dirugikan.2. Konsistensi rasa dan bentuk
Bayangkan saja apabila kita memesan sesuatu ternyata barangnya tidak sesuai dengan apa yang kita pesan, pastinya kita akan kecewa. Banyak sekali para penjual dadakan yang memberikan janji2 yang bagus atau malah memberi contoh gratis yang bagus pada awalnya tetapi tidak menjaga mutu dari dagangannya ketika menerima order. Kadang mereka merubah resep atau merubah bentuk (misalkan : besar kecilnya, tampilannya) agar lebih banyak untungnya, ini juga sebenarnya berhubungan dengan cara menghitung harga pokok dengan benar. Bahkan ada juga karena masih amatiran merasa tidak bersalah menjual makanan dengan resep gagal. Selalu harus diingat bahwa pembeli sudah mengeluarkan uang mereka untuk kita, dan percaya terhadap kita, kepercayaan itu mahal sekali harganya.3. Konsistensi waktu
Managemen waktu adalah kunci sukses bagi segala hal. Jangan pernah remehkan "waktu" makin bagus kita mengelolanya maka makin memudahkan kita dalam mengerjakan segala sesuatu. Apalagi kalau kita berjualan yang berhubungan dengan makanan, jelas kita tidak akan mengecewakan pelanggan kita dengan mengirim makanan yang sudah basi atau terlambat menyerahkan pada waktunya. Kita tahu kalau makanan gampang sekali rusak terutama makanan traditional yang menggunakan santan, makin fresh kita buat makin bagus, tapi bagaimana kalau mendapat order dalam jumlah banyak dan bermacam-macam tentu sangat sulit sekali, oleh karena itu dengan menghitung waktu pengerjaan yang cermat semua dapat diatasi. Mulailah dengan sesuatu yang bisa disimpan dan tahan lama dulu baru kemudian kerjakan makanan yg kira2 cepat basi belakangan, sehingga pada hari H-nya semua order dapat dikerjakan dengan baik dan tepat waktu. Pengetahuan tentang sifat dan karakter barang dagangan kita tentunya akan sangat bermanfaat.Dengan memperhatikan hal-hal diatas saya pikir akan memudahkan kita semua dalam menjaga kepuasan para pelanggan, sangat disadari bahwa penjual akan merasa bahagia apabila mendapatkan pelanggan yang loyal, hal itu tentunya sangat sulit diperoleh, diperlukan kerja keras dan usaha yang tidak sedikit. Salah satunya adalah dengan cara jangan pernah berpuas diri dan berhenti untuk terus membuka hati dan pikiran dengan terus berburu resep-resep unik dengan rasa yang enak dan layak jual. Saya percaya bahwa kunci sukses seseorang adalah dengan terus belajar dan memperbaiki diri...Siapa tahu suatu hari nanti hobby memasak saya bisa terus berlanjut menghasilkan pundi-pundi keuntungan untuk saya dan keluarga....Siapa tahu.....
Subscribe to:
Posts (Atom)














