Friday, November 15, 2013

Pengemis


Siang itu matahari benar-benar terik, sebenarnya malas kemana-mana, tapi karena harus mengantarkan anak yang akan ujian piano jadi terpaksa pergi juga. Pada saat saya sedang mencari tempat parkir kebetulan ada satu mobil yang pergi, maka cepat-cepat saya ambil posisinya, wah beruntung sekali pikir saya karena pada saat seperti itu sangat sulit mencari parkir. Memang ujian-ujian seperti ini pasti padat, karena untuk wilayah Colombo ujian disatukan disatu tempat yaitu gedung politehnik, dan tidak disediakan tempat parkir dan tempat tunggu bagi pengantar.

Setelah urusan mendaftarkan diri dan anak sudah masuk ke tempat ujian maka saya kembali ke mobil dan saya putuskan selama 2 jam tersebut untuk menunggu. Keputusan itu diambil karena saya mendapatkan parkir persis disebelah gedung tempat anak saya ujian dan didepan gedung bioskop tua yang walaupun saat itu kelihatan sepi tetapi saya lihat ada yang berjualan makanan dan minuman ringan sehingga kalaupun saya haus atau bosan saya bisa masuk gedung bioskop membeli minuman dingin yang dijual. Di tempat parkir itu juga berada disebelah jalan raya besar dan walaupun siang itu tidak banyak lalu lalang kendaraan tetapi sepanjang jalan banyak mobil di parkir dan sesekali ada juga orang-orang yang berjalan disepanjang trotoar, sehingga saya merasa aman. Untuk membuat lebih nyaman maka saya buka jendela mobil agak sedikit lebar agar udara masuk bebas ke dalam.

Pada saat saya sedang asik bermain game di gadget yang saya bawa tiba-tiba saya dikejutkan oleh orang yang mengetuk-ngetuk di jendela, dia menawarkan sesuatu ke saya, tapi karena saya tidak mengerti bahasanya maka saya tolak dengan halus, orangnya pun pergi. Tak lama kemudian datang lagi seorang pemuda, bukan cuma mengetuk tapi dia memukul dengan keras, dari bahasa tubuhnya dia meminta uang untuk makan, saya sedikit ketakutan dibuatnya, bukan hanya badannya yang gempal tapi caranya meminta agak kasar dan memaksa, saya pikir pasti dia preman atau pemuda mabuk yang sering mengganggu orang di jalan karena pakaiannyapun bagus dan bersih, tidak seperti pengemis atau gelandangan, cepat-cepat saya naikkan kaca mobil setinggi mungkin, saya tolak dia dengan gerakan tangan mengusir, akhirnya setelah beberapa saat dia pergi juga, mungkin karena frustasi tidak juga saya beri atau juga karena ada beberapa pejalan kaki yang datang melintas di tempat itu.

Kejadian diatas membuat saya lebih waspada, saya periksa apakah semua pintu mobil sudah terkunci dengan benar sekali lagi, dan tidak lagi asik bermain game tetapi saya mulai memperhatikan semua orang yang melintas, sampai akhirnya kembali seseorang menghampiri saya. Dia mengetuk jendela dan meminta-minta, karena terkejut dengan kejadian sebelumnya maka spontan saya tolak, diapun berlalu tanpa banyak bicara. Ternyata dia tidak sendirian, ada anak laki-laki dan istrinya yang menunggu sedikit dibelakangnya. Bukan si bapak yang cacat lumpuh separuh dari bahu kebawah sehingga sulit untuk berjalan atau si anak laki-laki yang sebaya dengan anak saya, ataupun si ibu yang menarik perhatian saya, tapi cara mereka berpandangan satu sama lain yang membuat saya takjub. Pandangan penuh kasih sayang, kepasrahan, penerimaan, kekaguman, rasa hormat dan entah apalagi yang tidak bisa saya gambarkan. Pandangan yang mampu mendesirkan hati saya, mendirikan bulu kuduk saya dan membuat waktu seperti berhenti berputar.

Saya seperti tak mampu berpikir jernih, terpaku memandang mereka. Saya hanya dapat memperhatikan mereka dan mengikuti semua gerak gerik mereka, mereka yang berjalan dengan amat berlahan menyusuri trotoar sambil sesekali berhenti karena memperhatikan sesuatu atau si bapak yang meminta-minta pada orang di jalan. Tidak kepada semua orang dia meminta-minta, dan setiap kali akan meminta-minta si ibu dan anaknya akan berdiri sedikit dibelakangnya, tetap dengan pandangan yang sama, seolah-olah memberi kesempatan si bapak melakukan pekerjaannya. Kemudian si ibu akan  membantu sang bapak berjalan, si anak menggandeng tangan ibunya, dan mereka kembali berjalan berdampingan. Pada saat berjalan dan tidak meminta-minta si anak sepertinya sibuk bertanya dan berceloteh dengan suara pelan sedangkan bapaknya dengan sabar memberi penjelasan dan bercerita, diselingi dengan senyuman dan terkadang tawa kecil ibunya.

Wajah mereka tampak teduh dan bahagia, amat berbeda dengan para pengemis dan peminta-minta yang sering saya temui, baju mereka walaupun sudah usang dan tua tetapi bersih, mereka juga berkomunikasi dalam bahasa inggris dengan baik. Mungkin memang mereka bukan pengemis biasa, atau mungkin mereka mengemis dengan terpaksa karena si bapak yang tiba-tiba menjadi sakit dan cacat, entahlah, tapi yang jelas kemudian saya tersadar dari lamunan dan rasa takjub saya, dan bergegas keluar dari mobil dengan sedikit berlari menghampiri mereka yang sudah berada agak jauh di depan dengan maksud memberikan sedikit uang. Si bapak mengenali saya, dia mengucapkan terimakasih dan minta maaf karena telah terpaksa mengganggu saya, si ibu dan anaknya berbisik mengucapkan terimakasih sambil tersenyum. Saya cepat-cepat berlalu dari mereka sebelum air mata ini terlanjur jatuh, dan merekapun melanjutkan perjalanan mereka, sambil terus berjalan bersisian bergandeng tangan menyusuri trotoar.

No comments:

Post a Comment